Bergerak

Diam terpaku tergugu
Tak bisa lagi berlagak lugu
Terlepas dari belenggu masa lalu
Kehidupan harus tetap melaju

Masa depan menanti di hadapan
Diri sendiri harus ditaklukkan
Tak ada lagi langkah perlahan
Setiap langkah jadi bukti perjuangan

Lupa

Lupa memang sebuah anugerah. Dengan lupa hal-hal buruk tak lagi menghantui. Ada kalanya lupa menjadi terasa menyebalkan. Apalagi ketika yang dilupakan adalah hal yang penting. Dan itu kejadian. Bahkan sampai saat ini Aku masih lupa. Lupa naruh HP dimana.

Kalau udah kaya gini, cuma bisa berharap tiba-tiba Allah berbaik hati mengembalikan. Entah ketemu di tempat yang tadi disambangi -yang berniat ditengok lagi besok-. Tiba-tiba ada yang ngangkat pas Aku telpon. Atau entahlah gimana caranya. Dan semoga HPnya masih jadi rezeki dan dikembalikan.

#curhat #random

Musuh

Hal yang menyebalkan adalah kamu kalah oleh dirimu sendiri dan kamu sadar itu. Rasanya seperti entahlah. Atau kamu tahu apa yang harus dilakukan tapi kamu tidak sanggup memaksa dirimu melakukannya. Sepertinya itu hal yang bodoh. Tapi entah mengapa masih saja berulang kali dilakukan. Masih berulang kali kalah.

Bukan tentang sesal berkepanjangan meratapi nasib. Tapi tentang bagaimana catatan itu tidak hanya sekedar menjadi coretan tak berarti. Namun menjadi pengingat. Mewujud dalam langkah yang semakin baik. Selamanya akan selalu ada pergolakan dengan diri sendiri. Kalah menang ada di diri sendiri pula.

Selamat (belajar) mengalahkan hawa nafsu. Semoga bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Momentum bulan penuh berkah tidak boleh dilewatkan. Laksana kawah candradimuka yang menjadi tempat menempa gathotkaca. Semoga Ramadhan kali ini menjadikan kita menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Takut

Bentuk ketakutan ternyata bisa mewujud dalam bentuk apapun. Bisa jadi memang bentuk ketakutan yang wajar dialami manusia sampai ketakutan yang aneh. Dan sepertinya takut yang kurasakan termasuk bentuk ketakutan yang aneh. Ketakutan yang sebenarnya terbentuk entah dari mana. Mungkin akibat akumulasi lelah yang memuncak. Jenuh karena kejaran dan tekanan deadline atau entah karena apa. Aku takut untuk membuka tumpukan kertas yang penuh coretan itu. Semacam merasa trauma yang rasanya tidak mau menyentuhnya. Dan ini sebenarnya nggak keren banget -.-a

Berhubung takutnya adalah ketakutan yang aneh maka sewajarnyalah untuk menaklukkan diri sendiri. Mendorong ketakutan tersebut hingga sudut terdalam atau mungkin sekalian saja buang keluar. Menghalau semua perasaan mual yang menyertai tiap kali melihat tumpukan tersebut. Itu bahkan hanya benda mati yang tidak dapat melakukan apapun. Dan aku menyentuhnyapun rasanya enggan.

Hanya ada satu cara untuk mengatasi ketakutan itu. HADAPI. Hanya itu dan memang hanya itu yang diperlukan. Toh ketika sudah dihadapi dan dijalani maka semua akan lewat juga. Jadi apa gunanya menghindar. Hanya mengundur waktu yang seharusnya. Hadapi saja dan selesaikan. Dan ketika tersadar semua sudah selesai dan berlalu.

Semangaat. Sepuluh hari selesai bukan hanya mimpi bila disertai usaha.
Sampai jumpa di pengajaran tanggal 1 Juli 2005 dan 19 Agustus 2015 di Grha Sabha Pramana.

Kamar belakang
19 Juni 2015
21.55

Random

Hari ini rasanya random banget. Bukan hari ini sih lebih tepatnya malam ini. Udah berusaha tenang setenang-tenangnya. Meyakinkan diri sendiri kalo semua bakal berlalu dan baik-baik aja. Cukup jalanin dan udah. Selesai. Tapiii nyatanya bahkan meyakinkan diri sendiri juga nggak mudah. Ngerasa ada aja yang kurang. Yang masih belum siap. Padahal mah kalo udah usaha yaudah kan ya? Urusan hasil hak prerogatif Alloh kok.

Tulisan hari ini akhirnya bener-bener jadi tulisan random serandom-randomnya. Nggak jelas dan nggak tentu arah. Tapi biarlah. Toh nggak tiap kali dan jarang sekali juga. Akhirnya memilih untuk tarik nafas dalam dan mengeluarkannya teratur sampai merasa tenang. Segala kepanikan hanya akan mengacaukan. Apalagi dengan kondisi besok ada ujian juga siangnya. Padahal materinya juga bingung. Dari pada panik nggak jelas mending berusaha mengingat-ingat tugas perbandingan pasal-pasal terkait wilayah laut daerah. Siapa tahu itu yang keluar jadi soal.

Apapun yang akan terjadi besok, saat ini hanya bisa mengusahakan yang terbaik dan berdo’a. Semoga esok hari diberi kelancaran dan hasil terbaik. Sampai jumpa di Grha Sabha Pramana tanggal 19 Agustus 2015.

Kalah (?)

Idris

Hari pertama Ramadhan sudah datang menyapa. Adikku yang paling kecil bahkan sudah menuliskan targetannya sejak berhari-hari sebelum Ramadhan datang. Impian besar seorang anak SD kelas 6 yang baru lulus. Rasanya malu kalah olehnya. Kalah semangat dan kalah keberanian untuk bermimpi. Mimpi yang tak sekedar mimpi tapi mimpi yang dibarengi tekad dan azzam. Mimpi yang direalisasikan dalam usaha. Semoga kita sama-sama bisa memberikan jubah kemulian untuk Umi dan Abi ya dek. 🙂

Untuk impian lama yang seolah terlupa
Bukan lagi masanya terlena akan dunia
Kembali merengkuh mimpi lama
Perjuangan berbuah surga

Semoga Allah memudahkan setiap langkah…

Napak Tilas

Dua hari yang lalu tepatnya 14 Juni 2015, ada undangan acara dari adikku yang paling kecil. Pelepasan Sekolah Dasar. Itu semacam wisuda-wisudaan buat anak SD. Dan berhubung hari ini jadwal agenda sekeluarga padat merayap maka yang bergi dibagi-bagi. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku sebagai panitia acara songsong Ramadhan, Abi menghadiri undangan nikahan di seberang rumah dan Umi yang pergi ke acara pelepasan SD. Aku memang berencana menyusul kesana setelah acaraku selesai tapi sempat ketiduran dan sampai sana tepat ketika adikku dipanggil ke depan. Padahal acara wisuda anak SD adalah acara paling ujung mengingat itu adalah pelepasan gabungan dari KB sampai SD. Jadi memang Aku sampai sana sudah hampir bubar acaranya.

Hadir pada acara itu, bertemu dengan guru-guru yang dulu membesarkan Aku rasanya memanggil kembali berbagai memori masa lalu yang dulu perah dilalui. Menyapa muka-muka yang dulu pernah akrab dalam kehidupanku membuat dadaku terasa hangat. Aku jadi merasa melankolis sendiri. Rasanya seperti baru kemarin semuanya terjadi. Tapi ternya itu sudah cukup lama berlalu. Kami sama-sama telah beranjak manua.

Dari tempat itu Aku berangkat menjadi seperti apa aku saat ini. TK dan SD di tempat yang sama cukup banyak membentuk Aku menjadi orang yang seperti ini. Belajar bacaan shalat yang dipraktekkan saat shalat zhuhur dan ashar selama enam hari menjadi kenangan tersendiri. Bacaan tersebut jadi semacam di luar kepala. Bayangkan saja dua tahun di TK masih di tambah dua atau tiga tahun – Aku lupa tepatnya- di SD. Tentu saja itu sangat cukup memberikan bekas. Apalagi ini di benak anak-anak yang masih lebih mudah menyimpan memori.

Mungkin salah satu alasan mengapa Bahasa Arab agak sedikit lebih familiar buatku karena sejarah panjangku semenjak TK. Kosakata bahasa arab sudah mulai akrab denganku pada saat itu. Tentu saja itu bukan tentang nahwu, shorof atau apapun ilmu bahasa arab lainnya. Hanya kosakata ringan sehari-hari atau benda-benda di sekitar. Sepertinya sampai kelas tiga memang bahasa arab hanya belajar kosakata dan struktur kata paling sederhana. Menginjak kelas empat baru ada sedikit stuktur yang dijelaskan dengan bahasa mudah. Yang pada kemudian hari baru Aku pahami kaidahnya pada saat di MTs.

Lingkungan yang cukup membentuk karakterku di luar keluarga adalah lingkungan sekolahan. Dan tidak Aku pungkiri TK dan SD Qurrota A’yun cukup banyak memberikan dampak untukku. Pembentukan akhlak, khazanah keislaman -karena pelajaraan agamanya dibagi jadi banyak dari mulai Akidah Akhlaq, Fiqih Ibadah, Tarikh sampai AlQur’an Hadits-, hafalan dan do’a dan banyak hal yang tidak diajarkan di kelas. Semoga surga menjadi balasan untuk mereka, guru-guruku yang mengabdi untuk membaktikan ilmunya.

Pelepasan siswa kemarin menjadi ajang nostalgia dan reuniku dengan guru-guru yang dulu membesarkan Aku. Sekaligus jalan-jalan sih. Karena lokasinya di foodcourt Jogja Expo Center.