Episode

Dua puluh lima bukan angka yang sedikit untuk menghitung waktu yang terlewati. Entah berapa banyak episode yang terlewati. Berapa banyak cerita yang dapat terangkai. Berapa banyak kata yang dapat terangkai untuk menuturkannya. Jika sebegitu banyaknya yang dapat diceritakan olehmu sebagai manusia dengan segala keterbatasannya, lalu seberapa detil rekaman yang dimiliki malaikat yang terus setia mengiringimu?

Waktu yang menjadi jatah masing-masing laksana es batu di bawah terik. Tidak peduli digunakan atau diabaikan begitu saja pada saatnya tetap akan habis. Menjadi pilihan masing-masing untuk menyibukkan diri dalam kebaikan atau membiarkan diri terlena. Menjadi manusia yang berarti atau justru membebani. Sedang sejatinya setiap episode seharusnya menjadi bagian dari penyusun kepingan cerita yang akan ditukar dengan tiket kebahagiaan nanti di kehidupan yang abadi.

Maka benarlah istiqomah merupakan sesuatu yang harus diminta. Lingkungan dan lingkaran sosial yang baik merupakan karunia. Kendatipun jalan kebaikan merupakan pilihan tapi akan terasa jauh lebih mudah ketika banyak faktor yang mendukung. Sehingga setiap episode yang kemudian terangkai seluruhnya adalah kebaikan. Apalagi yang lebih baik dari cinta, rahmat dan keberkahan dari-Nya dalam hidup kita?

Self Reminder

Membuka-buka tulisan lama sering kali menjadi salah satu hal yang dapat menjadi pengingat. Memaksa semangat untuk kembali. Menyegarkan lagi gambaran yang sempat buram. Meluruskan niat yang sempat beralih. Sama halnya dengan blog walking, selau ada sesuatu yang dapat diresapi ketika membaca kembali tulisan-tulisan yang tersimpan. Dan tulisan yang pernah ditulis rasanya lebih menohok dibandingkan tulisan orang lain. Membaca tulisan lama seolah memandang kembali masalah di masa lalu dan memanggil kembali pemecahan masalah yang pernah dilakukan. Sering kali kejadian saat ini hanya pengulangan masa lalu dalam bentuk lain.

Senyum miris menjadi ekspresi yang paling memungkinkan muncul ketika mendapati saat ini seolah lebih lemah dari masa lalu ketika menghadapi hal yang sama. Ekspresi yang selalu diusahakan diubah menjadi senyum optimis yang meyakinkan dir bahwa semua hal akan terlewati seperti semua yang sudah berlalu. Kejadian di masa lalu menjadi pengingat dan gambaran untuk menyusun gambaran di masa depan. Pengalaman selalu menjadi guru yang tak tergantikan.

Selalu ada hal yang berubah atau paling tidak diusahakan berubah menjadi lebih baik. Walaupun ada kalanya ada seiring dengan itu ada sisi lain yang menurun dan meminta perhatian pula. Memperbaiki diri sendiri adalah proses seumur hidup sampai saatnya kembali nanti. Sejalan dengan iman yang bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Selama setan masih sanggup berbisik dan menghembuskan kemaksiatan meski hanya dalam lintasan pikiran maka selama itu perbaikan masih harus berjalan.

Mengingat masa lalu dengan segala kemudahan dalam munajat dan interaksi dengan Al Qur’an berulang kali membuat terdiam. Membayangkan kembali segala aktifitas yang dilakukan baik saat ini maupun di masa lalu. Kemudian berusaha untuk kembali pada frekuensi saat itu. Hanya satu yang perlu dikalahkan untuk mencapainya. Hawa nafsu. Yang sayangnya dengan segala keburukan yang masih pekat di sekeliling ini itu bukanlah hal yang mudah.

Membaca kembali asa dan cita untuk menyempurnakan hafalan memunculkan serentetan pertanyaan untuk diri sendiri. Akankah selesai sesuai dengan yang direncanakan jika tidak diluangkan? Apa kabar impian menyematkan mahkota kemuliaan kepada kedua orang tua? Bagaimanakah menginginkan keluarga yang hidup dalam naungannya jika dirimu masih seperti ini?

Untuk target terdekat yang nampak di depan mata, masih butuh banyak perjuangan untuk menyelesaikannya. Menata kembali niat, menyusun kembali semangat. Berulang kali mengingatkan diri sendiri untuk kembali menyentuh dan menyelesaikan. Semoga ketika mei datang atau setidaknya sebelum mei beranjak meninggalkan semua telah selesai. Ditutup dengan hasil yang baik. Sehingga Ramadhan yang akan datang tidak perlu direcoki dengan tugas akhir.

 

Marhaban yaa Ramadhan.
Allah,,, ampunilah jika sampai saat ini belum maksimal persiapan untuk menyambutnya

Mbuh Piye Carane

Mbuh Piye Carane. Sepertinya kalimat itu akan menjadi kalimat yang sangat akrab denganku seminggu ke depan. Dimulai dari hari ini. Dan mbuh piye carane yang pertama harus selesai besok pagi jam delapan. Dan hari ini aku rasanya terlalu banyak yang ingin dituangkan menjadi tulisan. Tapi ada hal lain yang harus dipilih untuk diprioritaskan. Sama-sama menulis hanya saja bukan menulis tulisan yang disukai tapi harus menyelesaikan tulisan sebagai syarat kelulusan. Skripsi memenggil-manggil untuk segera disentuh dan diselesaikan. Jadi, sampai jumpa di hari esok.

#TulisanRandom2015 #hariketiga

Waktu Luang

Tiga hari yang lalu sepucuk undangan disampaikan padaku. Bukan undangan spesial sebenarnya. Bahkan mungkin terkesan tidak penting jika orang lain tahu. Bukan undangan acara bahagia orang lain untuk mengumumkan pernikahan atau undangan menghadiri pesta dan semacamnya. Undangan ini adalah undangan dari takmir masjid di dekat rumahku. Yah, untuk seorang yang secara administratif tercatat tinggal di daerah sini akan tetapi raganya lebih banyak melang-lang buana ke belahan bumi yang lain bahkan baru benar-benar kembali empat tahun belakangan tentunya itu menjadi sesuatu yang tidak biasa. Karena emapat tahun belakangan ini pun sepertinya lebih banyak kuhabiskan waktu di luar rumah.

Selembar undangan ukurang A5 yang sebesar buku tulis kecil itu merupakan undangan untuk membahas kegiatan songsong Ramadhan sekaligus rangkaian acara selama bulan suci itu. Awalnya sempat terlintas pikiran yang menyatakan siapa saya sampai turut serta diundang. Bukan tidak senang, justru tersanjung. Bukan tanpa alasan aku merasa seperti itu. Dengan kondisi tidak terlalu banyak mencurahkan waktu untuk mengurusi daerah tempat tinggalku bahkan telah cukup lama melepas kesibukan mengajar TPA yang sempat digeluti di awal masa perkuliahan, mendapat undangan ajakan untuk menghidupkan Ramadhan di daerah rumah sendiri rasanya sangan menyenangkan.

Tidak terbayang sebelumnya juga jika pertemuan itu dihadiri cukup banyak orang sepuh yang menjadi takmir dan beberapa pengurus kampung selain muda-mudinya. Ketua-ketua RT turut serta pada pertemuan itu. Saat itu aku baru benar-benar menyadari seberapa besar usaha masyarakat di kampungku untuk menyemarakkan Ramdhan. Bagaimana setiap RT bahu membahu mengambil bagian untuk mengisi jadwal membari buka puasa di masjid termasuk mengatur pergiliran orang yang bertugas saat buka puasa tersebut nantinya.

Acara songsong Ramadhan yang digagas bukan acara baru. Acara positif yang juga menekankan pada pentingnya kesehatan fisik ini telah berjalan bertahun-tahun. Jalan sehat sebelum bulan Ramdhan. Jalan sehat yang diikuti masyarakat sekampung dengan hadiah dan konsumsi yang disokong dari takmir. Pada acara ini dapat dilihat sinergitas yang cukup baik antara pemuda yang menjadi pelaksana teknis dan para orang tua yang mengarahkan dan menjadi penyokong dana. Bahkan pemuda masjid ini punya nama tersendiri. AMIMBAROH. Angkatan Muda Mudi Masjid Baiturrohmah.

Pertemuan yang diadakan setelah isya’ itu tidak sebentar. Setidaknya dua jam berlalu untuk melakukan pertemuan tersebut. Bahkan aku sampai rumah sudah cukup larut. Pukul 22.30 malam. Tapi tidak masalah karena aku pulang tidak sendirian. Beberapa orang yang searah berjalan bersama. Bahkan ada Pak RT yang ikut dalam rombongan tersebut.

Meluangkan waktu dan memiliki waktu luang. Dua ungkapan dengan makna yang cukup berbeda. Dan meluangkan waktu disaat ada kewajiban lain yang harus diselesaikan ternyata tidak mudah. Di saat deadline skripsi di depan mata kemudian dihadapkan realita bahwa Aku ada dalam kehidupan nyata di tengah masyarakat. Bukan pilihan mudah rasanya untuk kemudian mengabaikan undangan tersebut. Karena nyatanya sku memang tak sanggup mengabaikannya. Kupikir, untuk urusan dunia saja aku berani bersusah payah laluapakah untuk urusan akhirat aku tidak mau meluangkan waktu? 

Bismillah, Fillah, Billah, Lillah.

2 Juni 2015
Saat berusaha meluruskan niat kembali

Countdown

countdown-17

Tujuh belas hari menuju Ramadhan. Dan tiga hari menuju tanggal empat. Entah sejak kapan tanggal empat Juni 2015 menjadi tanggal yang begitu penting dalam hidupku. Bisa jadi mungkin bahkan menjadi turning point. Entahlah. Akupun tak tahu. Atau setidaknya belum tahu karena memang waktu yang diminta Tuhan membukakan maksud dari lakon ini belum menunjukkan pesan tersembunyi di baliknya. Ya, hikmah kehidupan yang ada pada setiap penggal cerita kehidupan itu masih misteri.

Detik yang terus berjalan, kadang berlalu tanpa sempat menyapa. Membiarkan diriku yang terpekur pada kenyataan. Terdiam tak mengerti apa yang harus dilakukan. Bukan, bukan tidak mengerti sepertinya. Tapi memilih untuk tidak mau tahu. Dengan sejuta alasan pembenaran yang sejatinya semuanya akan tersingkirkan ketika melihat ujung akhir dari segala jerih payah ini, Karena memang yag perlu dilakukan hanya usaha. Benar, usaha semampu usaha yang bisa dilakukan. Kalaupun ada yang harus dikorbankan wajar saja. Sesuatu yang luar biasa memang tak pernah terlahir dari hal yang biasa kan? Untuk awalan terkecil dan paling sederhana sekalipun dari suatu keberhasilan tetap butuh perjuangan dalam perjalanan pencapaiannya.

Membicarakan waktu, membawa waktu dalam perencanaan kehidupan, sejatinya juga menyapa kematian. Bukankah ajal memang mengintai dengan setia. Menanti waktu yang ‘tepat’ untuk kemudian menyapa dan mengajak pergi. Disamping hitungan mundur menuju Ramadhan, menuju empat Juni yang sempat menjadi bayang-bayang mimpi buruk ada hitungan lain yang juga berjalan yang tak disadari. Ya, hitungan menuju pertemuan dengan ajal.

Jika dengn ajal yang hitungan mundurnya bahkan tidak diketahui bisa dengan bodohnya bersantai, mengapa perlu segala mual dan ketakutan berlebihan menghadapi sesuatu yang pasti berlalu. Empat Juni 2015 yang tinggal tiga hari lagi. Deadline pengumpulan draft skripsi. Baiklah, tiga hari ini kurasa akan menjadi hari yang berbeda. Karena akan dijalani dengan lebih produktif, semoga. Toh yang perlu kulakukan hanya berusaha kah? Dengan do’a tanpa putus pula tentunya. Penentu hasil akhir tidak mutlak dari hasil jerih payahku. Ada komponen do’a dan bisa jadi faktor ‘X’ yang hanya dapat dilakukan olehNya. Dan kurasa untuk dapat memperoleh semuanya Aku harus lebih memperbaiki diri. MerayuNya dengan segenap persembahan terbaik, do’a dan permohonan ampunan di penghujung hari atas kesalahan yang dengan bodohnya  terulang, lagi dan lagi.

Sampai jumpa pada hari pengumpulan draft, sampai jumpa pada awal Ramadhan, dan sampai jumpa pada hari yang entah kapan. Semoga ketika datang hari itu aku ada pada kondisi terbaik untuk sebuah pertemuan.

Rencana-Nya

Tidak ada yang salah dari memiliki perencanaan dan berusaha merealisasikannya bukan? Tapi nyatanya kita memang tidak pernah tahu mana yang terbaik. Adakalanya hal yang menurut kita tidak menyenangkan justru baik bagi kita. Atau bahkan sebaliknya hal yang tidak menyenangkan justru sebenarnya yang lebih kita butuhkan. Usaha maksimal bahkan sampai mengawal pada prosesnya tidak akan menjamin suatu keberhasilan. Karena nyatanya semua mungkin berubah bahkan pada detik-detik terakhir yang menentukan.

Teguran langsung dari-Nya. Pada setiap perilaku sombong yang terlakoni. Terlalu percaya diri bahwa semua akan berjalan seperti skenario. Lalu Allah menghendaki jika jalan cerita milik-Nya yang dimainkan. Sekejap kekecewaan memang sempat terbesit. Selanjutnya senyum menggantikan dan mencoba menggubur dalam semua rasa lain selain kepercayaan mutlak akan rencana terbaik dari-Nya. Skenario langit sedang digulirkan. Entah seperti apa penghujungnya.

Mungkin baru satu sisi yang kita perhatikan sehingga menimbulkan praduga dan prasangka atas hal yang tidak diinginkan. Sewajarnyalah jika saat itu keimanan bermain. Menuntut pembuktian yang mewujud dalam tindakan. Nyatanya ketenangan hati memang berbanding lurus dengan keimanan. Cukuplah apa yang terjadi dan perasaan yang menelusup dalam sanubari menjadi catatan perbaikan di kemudian hari.

Masih cukup jelas dalam ingatan detik ketika salah satu impian buyar. Atau mungkin akan lebih tepat jika disebut dengan ditangguhkan. Dia lebih tahu kapasitas melebihi semua orang yang berhak menilai sekalipun. Dan itu lah yang terjadi. Lalu apa hakku untuk kecewa dan marah? Bukankah senyuman lebih baik untuk menggantikan semua ekspresi? 🙂

Tak ada lagi yang dapat kuusahakan saat ini selain do’a tulus mengharap yang terbaik. Konfigurasi maksimal yang segera terbentuk. Dari penggerak-penggerak perubahan yang akan menentukan arah menjadi lebih baik. Karena sejatinya rencana terbaik adalah rencana-Nya. Karena sebaik-baik perencana adalah Dia Yang Mengetahui segalanya.

Catatan 10 November 2014