Self Reminder

Membuka-buka tulisan lama sering kali menjadi salah satu hal yang dapat menjadi pengingat. Memaksa semangat untuk kembali. Menyegarkan lagi gambaran yang sempat buram. Meluruskan niat yang sempat beralih. Sama halnya dengan blog walking, selau ada sesuatu yang dapat diresapi ketika membaca kembali tulisan-tulisan yang tersimpan. Dan tulisan yang pernah ditulis rasanya lebih menohok dibandingkan tulisan orang lain. Membaca tulisan lama seolah memandang kembali masalah di masa lalu dan memanggil kembali pemecahan masalah yang pernah dilakukan. Sering kali kejadian saat ini hanya pengulangan masa lalu dalam bentuk lain.

Senyum miris menjadi ekspresi yang paling memungkinkan muncul ketika mendapati saat ini seolah lebih lemah dari masa lalu ketika menghadapi hal yang sama. Ekspresi yang selalu diusahakan diubah menjadi senyum optimis yang meyakinkan dir bahwa semua hal akan terlewati seperti semua yang sudah berlalu. Kejadian di masa lalu menjadi pengingat dan gambaran untuk menyusun gambaran di masa depan. Pengalaman selalu menjadi guru yang tak tergantikan.

Selalu ada hal yang berubah atau paling tidak diusahakan berubah menjadi lebih baik. Walaupun ada kalanya ada seiring dengan itu ada sisi lain yang menurun dan meminta perhatian pula. Memperbaiki diri sendiri adalah proses seumur hidup sampai saatnya kembali nanti. Sejalan dengan iman yang bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Selama setan masih sanggup berbisik dan menghembuskan kemaksiatan meski hanya dalam lintasan pikiran maka selama itu perbaikan masih harus berjalan.

Mengingat masa lalu dengan segala kemudahan dalam munajat dan interaksi dengan Al Qur’an berulang kali membuat terdiam. Membayangkan kembali segala aktifitas yang dilakukan baik saat ini maupun di masa lalu. Kemudian berusaha untuk kembali pada frekuensi saat itu. Hanya satu yang perlu dikalahkan untuk mencapainya. Hawa nafsu. Yang sayangnya dengan segala keburukan yang masih pekat di sekeliling ini itu bukanlah hal yang mudah.

Membaca kembali asa dan cita untuk menyempurnakan hafalan memunculkan serentetan pertanyaan untuk diri sendiri. Akankah selesai sesuai dengan yang direncanakan jika tidak diluangkan? Apa kabar impian menyematkan mahkota kemuliaan kepada kedua orang tua? Bagaimanakah menginginkan keluarga yang hidup dalam naungannya jika dirimu masih seperti ini?

Untuk target terdekat yang nampak di depan mata, masih butuh banyak perjuangan untuk menyelesaikannya. Menata kembali niat, menyusun kembali semangat. Berulang kali mengingatkan diri sendiri untuk kembali menyentuh dan menyelesaikan. Semoga ketika mei datang atau setidaknya sebelum mei beranjak meninggalkan semua telah selesai. Ditutup dengan hasil yang baik. Sehingga Ramadhan yang akan datang tidak perlu direcoki dengan tugas akhir.

 

Marhaban yaa Ramadhan.
Allah,,, ampunilah jika sampai saat ini belum maksimal persiapan untuk menyambutnya

Hafalan

-Suatu sore di Mushola Geodesi-

Sembari menunggu iqomah mengambil Al Qur’an di rak dan membukanya. Tiba-tiba ada suara dan terjadilah sebuah perbincangan singkat menjelang sholat.

Dosen (D): Sudah hafal berapa juz?

Mahasiswa (M) :  *menatap bingung mencari sumber suara kemudian nyengir bingung menjawab* Yang udah pernah dihafal sama yang masih hafal beda Pak

D : Juz 30 sudah hafal?

M : Mmm sudah Pak

D : Bagus,,,bagus,, Juz 29?

M : Sudah Pak *jawab sambil meringis*

D : Juz 28?

M : Iya Pak *semakin nggak jelas mukanya*

D : Juz 27?

M : Hafalannya terus ke depan Pak, ke Juz 1. Tapi udah lama banget nggak ngulang ini Pak *sambil ketawa miris*

D : Ya nggak papa kan tinggal ngulang lebih mudah.

M : *nelen ludah* Yang lebih susah jaga hafalannya ketimbang ngehafalnya Pak

Rasanya dalem banget. Berasa dapet tamparan keras. Ini yang nanya dosen gitu loh. Dan dari sekian banyak pertanyaan yang mungkin ditanyakan kenapa harus hafalan yang ditanyain coba? Diabsenin juznya satu per satu pula. Untung nggak ditanyain setiap suratnya. Mana nggak mungkin bohong kan? Cuma bisa nelen ludah, ngelus dada terus ngingetin diri sendiri lagi. Kayanya kalo gini ceritanya harus bener-bener ngulang hafalan. Allah mengingatkan dan menjaga dengan cara-Nya. Mengirimkan banyak teguran lewat orang-orang di sekitar. Lewat amanah yang harus diselesaikan. Dan lewat banyak hal lain yang entah disadari atau tidak merubah kita.

Maka siapalah yang menampik bahwa Dia adalah sebaik-baik penjaga?