18 Tahun

Maaf ya nggak ngucapin apapun ke kamu. Bukan karena lupa kok. Cuma memang nggak pengen nyampein langsung ke kamu aja. Tapi tentu saja tetap ada do’a buat kamu. Dan aku berharap semoga hasil SBMPTN nanti bisa jadi kadomu juga ya. Semoga diberi yang terbaik.

Kalau dipikir lagi aku memang kelihatannya ekspresif tapi buat orang yang dekat nggak banyak ungkapan secara verbal yang tersampaikan. Lebih nyaman ketika mengungkapkannya dengan perbuatan. Begitu juga buat kamu. Kamu nggak perlu ucapan sayangku ke kamu untuk tahu betapa berartinya kamu buat Aku kan? 🙂

Aku bangga jadi bagian dari hidupmu. Mungkin memang keberadaanku nggak terlalu banyak berpengaruh dalam perjalanan kehidupanmu, tapi Aku bersyukur ada di lingkaran terdekatmu. Rasanya bangga dan bahagia sekali saat kemarin tahu kamu memperoleh gelar peraih nilai terbaik di jurusanmu. Berdiri di hadapan ratusan murid dan wali murid yang hadir saat itu bersama 19 orang lainnya dan diwisuda langsung oleh kepala sekolah. Bukan oleh ketua jurusan seperti yang lainnya. Maaf ya tidak bisa hadir pada hari bahagia itu. Bahkan aku tidak punya kenangan apapun bersamamu bahkan sekedar foto sekalipun.

Kurasa sebenarnya justru Aku yang sedikit banyak bergantung padamu. Kamu pasti sadar betapa Aku sering kali merepotkanmu. Bahkan semakin lama seiring bertambah dewasanya kamu semakin banyak saja hal yang aku minta darimu. Rasanya nyaman tahu ada orang yang dapat melindungi dan menjagaku.

Selamat berjuang di dunia baru. Semoga kamu memperoleh yang terbaik ya. Do’a terbaikku untukmu. Selalu. Kamu boleh datang kepadaku kok kapanpun kamu mau dan butuh. Yah walaupun mungkin Aku tidak bisa banyak berbuat buat kamu sih. Setidaknya minimal berbagi beban lah ya.

Semoga hari ini menjadi titik balik dirimu untuk menjadi lebih baik. Menjadi pengingat jatah waktu yang semakin berkurang di dunia ini. Barokallah fii umrik. 🙂

imad

*btw, fotoku yang bareng kamu keselip dimana ya? atau kita emang nggak pernah foto berdua ya?

Percaya

2014-01-31-f83e8c8da77617464e0e49574bae13911

Keyakinan memang sejalan dengan keimanan. Selaksa kurva linear yang menggambarkan hubungan yang sejalan. Semakin tinggi tingkat keimanan maka semakin tinggi pula keyakinan yang dimiliki. Tapi nyatanya keimanan yang naik dan turun adalah keniscayaan. Dan ketika keimanan tidak berada pada titik yang baik maka wajarlah jika kemudian tidak mudah pula memiliki kepercayaan mutlak padaNya.

Yang perlu dilakukan hanya satu, lakukan yang terbaik. Hanya itu. Selebihnya serahkan penilaian pada yang berhak. Biarkan skenarioNya berjalan sebagaimana yang Dia kehendaki. Percayakan saja semua pada Yang Maha Berkehendak. Setelah usaha maksimal yang diiringi do’a paling tulus bukankah yang kita hanya butuh percaya?

Sebaik dan serapi apapun rencana yang kita susun, ketika dihadapkan pada skenario milikNya maka tak ada nilainya. Jadi apa lagi yang perlu diragukan? Bukankah ketika Allah bersamamu maka itu sudah lebih dari cukup?

Ya Allah, aku rela atas segala ketentuanMu atas diriku.
Kuserahkan segala urusanku padaMu.
Aku datang padaMu mengharap belas kasihan dan rahmat dariMu.
Karena Engkaulah sebaik-baik pembuat rencana.
Karena Engkaulah Yang Maha Berkuasa.

image source : http://www.huffingtonpost.com/tamara-star/what-do-you-believe_b_4699084.html