Dipaksa Menjadi Baik

Selalu ada jalan ketika Allah sudah berkehendak. Caranya mungkin sudah terprediksi atau bahkan tidak terbayangkan sama sekali. Bisa jadi menjadi hal yang menyenangkan atau tidak pernah kita inginkan meski hanya dalam mimpi. Semua tidak ada yang mampu menolak dan menahan jika sudah ada kehendak dari Penggenggam Semesta.

Berada dalam kondisi terpaksa sibuk mungkin jauh lebih baik dibandingkan dengan memiliki banyak waktu kosong. Sibuk dalam kebaikan tentunya lebih utama jika dibandingkan hanya menghabiskan waktu untuk bersenang-senang atau melarikan diri dari kenyataan. Dipaksa Allah untuk mengisi hari-hari dengan aktivitas yang reproduktif sampai badan terasa lelah tentunya lebih baik dari pada sekedarnya saja menjalani hidup.

Tiba-tiba dimasukkan dalam tim suatu proyek yang mengharuskan hadir ke kampus nyaris setiap hari. Menghentikan ketakutan untuk bertemu dosen karena terpaksa harus bertemu dalam forum yang sama walaupun untuk urusan yang berbeda. Berulang kali harus menghadapi ketakutan diri sendiri karena tugas akhir yang masih belum kunjung usai. Mendadak diminta menyelesaikan paper yang masih menjadi tanggungan dan berkantor berhari-hari di ruang ppids untuk menyelesaikannya. Seharian penuh lebih pagi dan lebih sore dari jadwal orang bekerja. Mendapati dosen lain yang menjadi pembimbing pendamping berulang kali memasuki ruangan dan tiba-tiba tersenyum dan tertawa. Bukan tanpa sebab tetapi karena melihatku yang tiba-tiba menundukkan kepala. Sekalipun beliau berucap bahwa beliau tidak menanyakan apapun tapi bahkan rasanya senyuman beliau sudah mewakili semua pertanyaan. Pertanyaan yang akhirnya terlontar juga walaupun dalam kalimat samar. Pertanyaan yang sama yang kemudian ditanyakan dengan tegas dan jelas oleh pembimbing pertama. Kondisi lain lagi yang membuatku terpaksa mengalahkan diri sendiri lagi. Menekan sejauh mungkin ketakutan aneh dan segala rasa yang malas dan kawan-kawannya yang mengganggu.

Ketika Allah menginginkan kebaikan, banyak jalan yang dibuka dan didekatkan. Ada kecenderungan untuk selalu berada dalam lingkungan yang baik pula. Bersyukur ketika merasa ditegur ketika tanpa sadar menjauh. Dihadapkan pada sesuatu yang mengembalikan kita pada track ketika sudah mulai keluar jalur. Bersyukur ketika Allah selalu menjaga dalam kebaikan.

#day4

Ya Allah teguhkan hati kami dalam agamaMu, istiqomahkan kami dalam ketaatan kepadaMu dan karuniakan khusnul khotimah di penghujung hidup kami

 

Advertisements

Jejak

Hembusan angin malam menyapa keheningan
Mengetuk lirih kaca nurani
Membawakan kembali aroma perjuangan
Meningkahi gemerlap gempita duniawi

Hamparan kenyataan terpampang dihadapan
Menampilkan prasasti dan karya abadi
Takkan mungkin lekang oleh zaman
Tak akan terlewat meski dalam sepi
Tercatat rapi pada catatan amalan
Sampai pada saatnya tiba menjadi saksi
Pada hari yang telah dijanjikan

Semoga Allah mudahkan untuk memilih jalan kebaikan
#day3

Manusia Terbaik

manusia-terbaik

Manusia terbaik dalam sudut pandang Allah dan Rasul-Nya ternyata memiliki kriteria tersendiri. Dalam waktu yang cukup lama kupikir hanya orang yang paling bertakwa dan paling banyak manfaatnya yang memiliki ciri-ciri manusia terbaik. Mereka yang paling bertakwa tersebut dalam Al Qur’an dan yang paling bermanfaat untuk sekitarnya disabdakan oleh kekasihnya. Ditambah mereka yang belajar Al Qur’an dan mengamalkannya mungkin. Sampai suatu ketika dalam sebuah kajian aku tahu jika banyak ciri manusia terbaik. Banyak jalan dan peluang yang bisa diambil untuk menjadi manusia terbaik. Jalan yang dapat diambil sesuai dengan porsi dan kemampuan. Mana yang paling dekat dan paling ringan untuk dilakukan.

#day2

Semoga Allah mudahkan untuk terus berproses menjadi lebih baik menjadi manusia terbaik

November

Seperti apapun kegiatan yang dilakukan, waktu terus bergulir. Tanggal di sudut bawah layar laptop menunjukkan awal November. Terdiam sejenak, banyak kilas memori dan angan yang berkelebat. Menerbitkan senyum manis sekaligus getir seiring memori dan angan yang yang silih berganti. Setidaknya semua masih bisa diwakili dengan senyuman sekalipun sebagai bentuk penghibur diri. 

Tidak ada waktu yang terlalu istimewa atau terlalu menyedihkan. Momen yang memiliki kenangan khusus lebih disebabkan karena alasan emosional. Baik itu bahagia atau justru sebaliknya. Setidaknya semoga masih terselip kesadaran bahwa setiap detiknya akan ditanya.

Ada do’a yang melangit bersama kerja sebagai pembuktian. Ada laku yang menjadi berwujudan iman. Seiring iman yang naik bersama ketaatan dan luruh bersama kemaksiatan. Pilihan kegitan yang mengisi hari, ketenangan jiwa, sikap dan ucapan sering kali mampu menjadi penanda sejauh apa kondisi iman berubah. Karena sejatinya iman takakan pernah sejalan dengan kemaksiatan. 

Bersama bulan baru yang menyapa, bersama angan yang dilangitkan kembali lewat do’a-do’a di penghujung malam dan sujud-sujud panjang, istighfar yang mungkin bahkan perlu diistighfari, semangat dan tekad untuk terus berproses menjadi lebih baik harus terus dan terus diperbarui. Membuka kembali rencana yang disusun sekaligus memperbaiki rencana yang memerlukan penyesuaian. Asa yang belum tercapai tidak serta merta menjadi bukti kegagalan. Bisa jadi Allah sudah menyiapkan gantinya di waktu yang lebih baik. Mungkin ada usaha lebih keras yang ingin Dia lihat. Mungkin ada do’a yang lebih khidmat yang ingin Dia dengar. Pada hakikatnya kita yang membutuhkan setiap laku dan kebaikan yang kita lakukan. 

#day1 

Semoga bisa kembali rutin mengisi rumah ini. Bersamaan dengan menyelesaikan tugas lain di dunia nyata. 

Episode yang Tidak Mudah

Kurasa sekarang aku tahu rasanya tidak mudah untuk menyelesaikan kuliah. Sepertinya aku mulai mengerti mengapa ada yang tidak kunjung selesai padahal ‘hanya’ tinggal menyelesaikan tugas akhir. Mungkin salah satu alasannya seperti yang aku alami saat ini. Ada saja hal yang muncul dan seolah menjadi pembenaran alasan mengapa belum juga selesai. Walaupun aku sendiri tidak cukup mengerti penyebab tidak terangkainya kalimat demi kalimat yang seharusnya menyusun kesatuan tugas akhir. Mungkin memang ada alasan-Nya sehingga ada yang ditangguhkan untuk segera menyelesaikan.

Aku baru merasakan saat ini mengingat setahun lalu kendatipun melewati hal yang sama tapi tidak mendapati kesulitan untuk menulis. Mengejar semuanya untuk selesai dalam hitungan hari bahkan Allah berikan walaupun dengan penuh perjuangan. Lalu ketika dihadapkan dengan kondisi yang sama dengan tantangan yang berbeda rasa butuh lebih banyak tasbih untuk menguatkan diri. Apalagi yang dibutuhkan untuk bisa menulis ketika sudah memahami apa yang kamu kerjakan dan tahu apa yang harus ditulis tetapi rangkaian kalimat tidak juga tersusun? Mungkin itu memang isyarat untuk semakin merunduk, meminta dan meminjam kekuatan-Nya karena semua dalam genggaman-Nya bukan?

Ketika waktu yang dimiliki semakin sempit, kekhawatiran semakin memuncak, sesak semakin menjadi apalagi yang lebih dibutuhkan selain pertolongan-Nya. Ketika seolah tidak ada lagi daya untuk bertahan menyelesaikan siapa lagi yang bisa dijadikan sandaran jika bukan Dia. Mungkin ini saatnya mengimplementasikan teori yang dipelajari bertahun-tahun agar mewujud menjadi pengalaman yang dapat diambil hikmah. Tentang kesabaran, kepercayaan, tawakal, usaha dan do’a yang tak boleh putus. Bisa jadi ini menjadi ladang ujian pembuktian keimanan. Akankah bertambah atau justru meluruh bersama kefuturan.

Jika Allah senang mendengar pinta dari hamba-Nya apa yang menghalangi untuk terus berdo’a. Jika janji-Nya adalah kepastian tidak ada alasan untuk berputus asa pada rahmat-Nya bukan? Setiap pinta pasti dijawab. Mungkin memang dalam bentuk lain selain yang dipinta tetapi pasti itu lebih sesuai dengan kebutuhan. Percaya saja Dia lebih tahu apa yang terbaik. Dan ketika kehendak-Nya berjalan bahkan semesta tak akan kuasa menolak.

Teruslah bertahan tanpa putus harapan. Tetaplah tersenyum ketika kehidupan terlihat suram. Teruslah berjalan dengan sepenuh keyakinan. Ada Dia yang menggenggam segala urusan. Dan percayalah semua akan berlalu pada saatnya. Bersama lembaran baru yang datang menggantikan episode yang lama. Ada lakon lain yang masih menanti untuk dimainkan. Maka teruslah berjalan dan bertahan sampai ketentuan itu datang.

Bersama dekapan do’a yang dikirimkan dari penjuru muka bumi, semoga Allah mudahkan segala urusan dan berikan yang terbaik. Terbaik dalam kaca mata dan parameter-Nya.

Sudut kamar atas pada penghujung malam yang sunyi,
2.24 WIB

 

Apa kabar?

Juni telah menyapa. Ramadhan sudah di depan mata. Dan aku masih disini. Bersama setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan. Sebagiannya masih tersisa karena diri sendiri yang tak kunjung menyelesaikannya. Menikmati kepanikan dan ketakutan yang dirasakan. Yang kemudian disadari sebagai sesuatu yang bodoh. Seolah tidak memiliki sandaran terbaik saja. Kemudian satu tanya menyapa, apa kabar iman?

Bisa jadi dengan seluruh beban yang harus diselesaiakan, intensitas dan interaksi dengan Allah dengan “dosis” biasanya tidak cukup. Perlu lebih dekat, lebih sering dan lebih banyak lagi. Karena pada dasarnya (si)apalah manusia di hadapan semesta. Apalagi dihadapan Sang Penguasa. Laa khaula wa laa quwwata illa billah.

Ramadhan dengan segala keberkahannya semoga melingkupi perjalanan ke depan. Semoga Allah ijinkan untuk menyapa Ramadhan yang tinggal beberapa hari ini. Mengisinya dengan sebaik-baiknya. Menyelesaikan semua yang belum usai. Menunaikan setiap janji dan kewajiban terhadap manusia yang belum terpenuhi. Mengisi kehidupan dengan kebaikan. Meraih impian yang terpatri di sanubari.

Bismillah. 
Semoga Allah ijinkan aku untuk menyematkan mahkota kemulian untuk kedua orangtuaku di akhirat nanti

Asa

WhatsApp-Image-20160525

jadwal kegiatan wisuda

Manusia wajib berusaha, hasil merupakan hak prerogatif Allah. Semoga Allah beri yang terbaik.
Berharap dan berusaha menyelesaikan semua untuk wisuda Juli. Walaupun sampai saat ini untuk selesai masih berada dalam bayang. Allah yang Paling Berkuasa atas segala sesuatu.