Rencana-Nya

Tidak ada yang salah dari memiliki perencanaan dan berusaha merealisasikannya bukan? Tapi nyatanya kita memang tidak pernah tahu mana yang terbaik. Adakalanya hal yang menurut kita tidak menyenangkan justru baik bagi kita. Atau bahkan sebaliknya hal yang tidak menyenangkan justru sebenarnya yang lebih kita butuhkan. Usaha maksimal bahkan sampai mengawal pada prosesnya tidak akan menjamin suatu keberhasilan. Karena nyatanya semua mungkin berubah bahkan pada detik-detik terakhir yang menentukan.

Teguran langsung dari-Nya. Pada setiap perilaku sombong yang terlakoni. Terlalu percaya diri bahwa semua akan berjalan seperti skenario. Lalu Allah menghendaki jika jalan cerita milik-Nya yang dimainkan. Sekejap kekecewaan memang sempat terbesit. Selanjutnya senyum menggantikan dan mencoba menggubur dalam semua rasa lain selain kepercayaan mutlak akan rencana terbaik dari-Nya. Skenario langit sedang digulirkan. Entah seperti apa penghujungnya.

Mungkin baru satu sisi yang kita perhatikan sehingga menimbulkan praduga dan prasangka atas hal yang tidak diinginkan. Sewajarnyalah jika saat itu keimanan bermain. Menuntut pembuktian yang mewujud dalam tindakan. Nyatanya ketenangan hati memang berbanding lurus dengan keimanan. Cukuplah apa yang terjadi dan perasaan yang menelusup dalam sanubari menjadi catatan perbaikan di kemudian hari.

Masih cukup jelas dalam ingatan detik ketika salah satu impian buyar. Atau mungkin akan lebih tepat jika disebut dengan ditangguhkan. Dia lebih tahu kapasitas melebihi semua orang yang berhak menilai sekalipun. Dan itu lah yang terjadi. Lalu apa hakku untuk kecewa dan marah? Bukankah senyuman lebih baik untuk menggantikan semua ekspresi? 🙂

Tak ada lagi yang dapat kuusahakan saat ini selain do’a tulus mengharap yang terbaik. Konfigurasi maksimal yang segera terbentuk. Dari penggerak-penggerak perubahan yang akan menentukan arah menjadi lebih baik. Karena sejatinya rencana terbaik adalah rencana-Nya. Karena sebaik-baik perencana adalah Dia Yang Mengetahui segalanya.

Catatan 10 November 2014

 

Hafalan

-Suatu sore di Mushola Geodesi-

Sembari menunggu iqomah mengambil Al Qur’an di rak dan membukanya. Tiba-tiba ada suara dan terjadilah sebuah perbincangan singkat menjelang sholat.

Dosen (D): Sudah hafal berapa juz?

Mahasiswa (M) :  *menatap bingung mencari sumber suara kemudian nyengir bingung menjawab* Yang udah pernah dihafal sama yang masih hafal beda Pak

D : Juz 30 sudah hafal?

M : Mmm sudah Pak

D : Bagus,,,bagus,, Juz 29?

M : Sudah Pak *jawab sambil meringis*

D : Juz 28?

M : Iya Pak *semakin nggak jelas mukanya*

D : Juz 27?

M : Hafalannya terus ke depan Pak, ke Juz 1. Tapi udah lama banget nggak ngulang ini Pak *sambil ketawa miris*

D : Ya nggak papa kan tinggal ngulang lebih mudah.

M : *nelen ludah* Yang lebih susah jaga hafalannya ketimbang ngehafalnya Pak

Rasanya dalem banget. Berasa dapet tamparan keras. Ini yang nanya dosen gitu loh. Dan dari sekian banyak pertanyaan yang mungkin ditanyakan kenapa harus hafalan yang ditanyain coba? Diabsenin juznya satu per satu pula. Untung nggak ditanyain setiap suratnya. Mana nggak mungkin bohong kan? Cuma bisa nelen ludah, ngelus dada terus ngingetin diri sendiri lagi. Kayanya kalo gini ceritanya harus bener-bener ngulang hafalan. Allah mengingatkan dan menjaga dengan cara-Nya. Mengirimkan banyak teguran lewat orang-orang di sekitar. Lewat amanah yang harus diselesaikan. Dan lewat banyak hal lain yang entah disadari atau tidak merubah kita.

Maka siapalah yang menampik bahwa Dia adalah sebaik-baik penjaga?

 

 

 

Renungan Akhir Tahun

Tidak banyak waktu yang tersisa di penghujung 2014 ini. Bilangan angka yang terlewati dalam hidupa bahkan telah berubah 23 hari yang lalu. Melirik sekilas kertas yang tertempel di dinding sejak awal tahun lalu, dan sejenak terdiam. Apa saja yang sudah terlewat hampir setahun ini? Rasanya tidak banyak yang berubah. Atau mungkin banyak perubahan kecil yang tanpa sadar membentuk diriku saat ini.

Terlalu banyak kejadian yang tidak pernah terbayangkan sekalipun yang terjadi yang harus kulewati. Menyusun kembali rencana kehidupan yang telah bertahun dibuat yang kemudian harus berubah dalam sekejap. Belurang kali memantapkan hati untuk mengambil keputusan yang bahkan ujungnya masih buram. Percayalah, menyelesaikan program pasca sarjana pada tahun 2016 tidak pernah masuk dalam rencana hidupku. Allah menempaku dengan begitu banyak kejadian yang selalu memuatku terpana. Sungguh aku memang menulis lakon hidup yang kuinginkan namun pada akhirnya memang skenario-Nya lah yang harus kujalani. Membuat perbaikan di sana-sini, menulis ulang cerita yang harus dilakoni menyesuaikan jalan cerita-Nya.

Ini langkahku, walaupun payah bukan alasan menyerah. Ini langkahku, sedikit usaha sebagai penawaran sebagai pengiring pinta pada-Nya untuk memberi kesempatan menjalani kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Satu impianku, di dekap kematian dalam dekapan keridhoan-Nya. Menjalani hidup yang mulia dan dikaruniai kematian yang syahid. Bukankah ujung dari setiap yang bernyawa adalah kematian?

Welcome December :)

Menuliskan ulang rencana dan targetan

target desember

target desember

Target desember :

  • Muroja’ah
  • Tambah hafalan àAl Baqoroh selesai +juz 27
  • Proposal skripsi
  • Renstra
  • Purna amanah dengan baik

Cukup lah itu yang bakal di-evalusi akhir bulan nanti. Target agak gila sebenarnya tapi apa salahnya buat target tinggi? Hanya berbagi mimpi. Siapa tahu ada yang mendoakan dan diijabah 😉

Sisa mimpi dan target untuk bulan ini dituliskan di tempat lain. Yang manapun semoga tercapai semua. Dan 30 hari lagi evalusi seluruh mimpi pada tahun ini. Hmm,, sepertinya akan cukup banyak yang dituliskan kembali pada tahun depan karena belum terealisasi karena satu dan lain hal.

(Bukan) Perpisahan

Danbo keren dengan jaket BEM KMFT-nya

Terimakasih banyak untuk persembahannya. Tidak ada kata mantan dalam keluarga. Cerita ini tidak berhenti sampai closing ceremony kemarin. Ini tentangku, tentangmu, tentang kita. Tentang kalian yang menjadi bagian yang cukup banyak mewarnai kehidupanku. Terimakasih telah hadir dalam hidupku. Persembahan kemarin menjadi penutup manis akhir kepengurusan. Terimakasih adek-adekku,,,

Kabinet inisiatif membumi. Nama yang kemudian menyatukan kita. Terimakasih untuk setahun kemarin. Kalian adalah orang-orang hebat yang aku temui. Cerita tentang kalian tidak akan cukup tertuliskan di sini.

Kita memang tidak lagi bersama. Tapi aku masih merasakan keberadaan kalian. Dalam memori yang terus hidup. Sampai kapanpun.

kabinet inisiatif membumi

Moh Faza Rosyada| Yanuar Firmansyah| Ahmad Fahmi| Novita Nur Syahfitri| Adinda ajitya Ferina| Wardahtuljannah| Paras Dita| Kori Akbar| Muhammad Rifki Ali| Zaky Dzulfikar Harun| Fahmi Fahrurozi| Tubagus Dimas Aditiarachman|Muchammad Adib| Hendarko Hinu Hardanto

Selamat melanjutkan karya di manapun. Dalam bentuk apapun 🙂

Selamat Datang

Assalamu’alaikum wr wb
“Jogja! Jogja! Tetap Istimewa
Istimewa Negrinya, Istimewa Orangnya
Jogja! Jogja! Tetap Istimewa
Jogja Istimewa untuk Indonesia” -Jogja Istimewa.Kill the DJ-

Sugeng rawuh dumugi Ngayogyakarta. Selamat datang di Daerah Istimewa Yogyakarta. Selamat datang di universitas kerakyatan dan selamat datang di Fakultas terbesar di universitas ini. 

Bukan kebetulan kalian semua ada di sini. Benang takdir yang terajut membimbing kalian sampai di sini. Yang Maha Kuasa menghendaki kalian menjadi sebagian kecil dari penduduk Indonesia yang mendapat kesempatan untuk mengecap kuliah di UGM ini.
Bukan tanpa perjuangan kalian sampai di sini. Menyisihkan lebih dari 40 orang untuk mendapatkan kesempatan kuliah ini bukanlah hal yang mudah. Dan kalian mendapatkannya. Mungkin Dia menginginkan kalian untuk di sini, dengan jalan ini untuk menjadi generasi terbaik yang akan menggantikan para pemimpin.
Bukan lagi kalian adalah anak kecil yang seluruh terpaku pada jadwal yang ditentukan orang lain. Sekarang kalian adalah pemimpin bagi diri kalian masing-masing. Penentu kehidupan dan pemilik keputusan yang bisa menentukan tindakannya. Maka lakukanlah apapun dan jadilah apapun dengan bertanggung jawab. Di atas semuanya menjadi bermanfaat untuk orang lain adalah keutamaan.
Bukan karena terpaksa seharusnya kalian hadir di sini untuk mengikuti serangkaian Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru (PPSMB) ini. PRAJURIT (Pelatihan dan Orientasi Menuju Solidaritas Teknik) 2013 yang merupan nama dari PPSMB Fakultas Teknik merupakan salah satu sarana dan fasilitas yang dapat digunakan untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan dunia kampus. Latihan bersosialisasi dengan teman-teman baru dan juga mendapat banyak materi bagus dengan pembicara profesional untuk menambah pengetahuan dari mulai kuliah sampai soft skill. Dengan PPSMB ini harapannya kalian siap untuk menjalani kehidupan kampus.
Dan akhirnya, kami selaku panitia PPSMB PRAJURIT khususnya bidang kesekretariatan (KSK) mengucapkan selamat datang, selamat bergabung di keluarga besar fakultas teknik UGM. Selamat bergabung dalam barisan engineer pembangun bangsa.
Untuk penutup, ijinkan kami selaku panitia PRAJURIT  2013 pada umumnya dan KSK pada khususnya memohon maaf atas segala salah baik yang disengaja maupun tidak. Terutama saat menjadi admin baik twitter maupun facebook.
Padamu negeri teknik berbakiti.
PRAJURIT!!! BERANI!!!
TEKNIK!!! JAYA!!!

Wassalamu’alaikum wr wb

Bidang Kesekretariatan,
Fina-Ira-Ema-Irna-Okta-Galuh-Yoga-Rendy-Habib-Ihsan-Harfan

Tarawih 17 Raka’at

Ini pengalaman awal ramadhan kemarin yang udah lama pengen  di tulis tapi nggak kesampaian dan baru sekarang ketulis. Yah, ternyata naik motor selama 2 jam buat sampai sana dan langsung balik hanya setelah beberapa jam rasanya lumayan juga ya. Dan percayalah, naik motor malem-malem di gunung dan sepanjang jalannya nggak ada lampu itu tidak semenyenangkan yang dibayangkan *emang siapa yang bilang kalo itu menyenangkan ya? –a* yang seenggaknya dengan pemandangan yang sangat menpesona liat kota dari atas gunung semua kengerian itu terbayar laah :3
Perjalanan ke Gunung Kidul ini sejauh ini adalah perjalanan paling menantang selama aku bisa naik motor. Naik motor selama 2 jam dengan jalan yang seperti di gunung *emang gunung sih namanya aja Gunung Kidul* dan boncengin orang. Waktu berangkat sih enak-enak aja secara masih terang benderang dan bareng-bareng sama yang lain. Pulangnya selain menguji kemampuan bermotor, juga menguji mental dan iman. Jalannya belokannya sama sekali nggak nyantai dan nggak ada lampu masih di tambah naik turun pula. Itu semacam nguji adrenalin juga sih soalnya belokannya nggak keliatan dan rasanya belom selesai belok udah muncul belokan berikutnya. Dan berhubung jalanannya sepi dan minta ditaklukkan semua orang memacu motor dengan kecepatan yang aku nggak bisa ngejar –a jadilah aku tertinggla sendirian di jalanan yang gelap. Tapi kalo disuruh nyoba lagi nggak kapok sih :p
Gunung Kidul yang didatengin ini bukan Gunung Kidul yang aku bayangin. Ini seperti di negeri antah berantah. Nggak ada sinyal dan rasanya jauuuuuh banget padahal masih di Jogja ._.
Semua capek serasa terbayar ngeliat senyumnya adek-adek TPA yang ada di sana dan mengikuti acara dengan antusias. Rasanya selalu menyenangkan tiap kali bisa liat orang lain tersenyum, tertawa, dan bahagia. Yah pokoknya ngeliat orang lain bahagia itu candu :’)
Ngurusin anak kecil itu menyenangkan. Pada akhirnya tetep nggak bisa marah walaupun mereka ngeselin banget 😀 Gimana nggak ngeselin kalo setiap perkataan yang diomong disela atau malah ditinggal cerita sendiri. Dan sialnya suaraku nggka bisa lebih keras dari mereka -.-
Ngeliat mereka semangat jawab pertanyaan waktu cerdas cermat, nulis semua impian mereka dengan antusias dan nempelin di pohon impian, bahagia banget dapet es kelapa muda dan olive buat buka puasa dan ngeliat mereka dengan tertib sholat berjama’ah rasanya bener-bener buat terharu. Masih akan terus ada orang-orang yang punya mimpi dan akan memperbaiki negeri ini. 🙂
Sesaat sebelum buka puasa aku sempet nanya ke mbak-mbak yang biasa ngajar TPA disitu tentang tarawih di mushola tersebut. Dan jawabannya membuat aku bingung dan jadi mikir. Kata mbaknya itu sholat disana biasanya 17 raka’at. Wuaaah 17 raka’at?? Aku taunya 11 raka’at kalo nggak ya 23 raka’at. Ini aku yang emang nggak tau atau emang harusnya nggak ada. Langsung ngerasa masih harus banyak banget belajar lagi, iya belajar tentang banyak hal. Juga membuka kembali memori pelajaran jaman dulu. Rasanya berdosa banget deh pernah belajar tapi trus malah ngeluapai begitu aja. Seenggaknya besok-besok kalo ada yang tanya bisa jawab dengan yakin lah.
Perjalanan ke negeri antah berantah di Gunung Kidul itu bener-bener berkesan buatku. Mengajariku banyak hal *ceilah bahasanya*. Aku ngerasa bahagia dan bersyukur banget ada dan besar di lungkungan yang cukup kondusif buat belajar. Punya keluarga dan teman-teman yang luar biasa baik. Nggak pernah ngerasa susah buat cari air. Makan cukup. Tidur masih di kasur. Kurang apalagi coba? Di sana air bersih ternyata harus beli. Akses ke luar juga nggak semudah di Jogja. Kualitas pendidikan jangan dibandingin sama sekolah di kota. Masih butuh bertahun-tahun lah kalo mau nyusul. Kecuali ada yang mau konsen banget buat mengabdi di sana mengembangin. Dan sayangnya aku ngerasa masih belum bisa apa-apa sekarang. 😦
Rasanya tersentuh sekali ketika mereka memberikan lempeng yang mereka bilang sebagai oleh-oleh kepada kami. Bahkan dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, mereka masih memiliki hati yang begitu lapang untuk member kepada yang lain.
Aku bahagia ada di antara teman-teman yang masih mau meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran bua orang lain. Aku bahagia ada diantara orang-orang yang belajar untuk tidak egois hanya memikirkan diri sendiri kendatipun pusing dengan segala macam tugas kuliah. Aku bahagia, sangat bahagia ketika melepas kami ke Jogja salah seorang perwakilan mereka mendo’akan keselamatan dan kesuksesan kami. Bagaimana mungkin tidak bahagia ketika do’a tersebut diaminkan oleh semua jama’ah yang ada di mushola tersebut. Aku pulang dari sana dengan segenap perasaan bahagia dan membawa banyak sekali pelajaran kehidupan dari mereka 🙂
Perjalanan ke Gunung Kidul dalam acara Geodesi Beramal
2 Ramadhan 1434|10 Juli 2013
Terselip kebanggaan dan kebahagian pada jurusan dan teman-teman tercinta.
GEODESI! SATU HATI!
Dokumentasi
Perjalanan dari parkiran motor ke mushola 
senyum matahari dari hati yang tulus

kami dan mereka (1)

kami dan mereka (2)

Sambutan dari tuan rumah

Sambutan ketua KMTG

Lomba Cerdas Cermat

Games

Semester Empat

Semester empat belum genap sebulan berjalan. Kembali merasakan rutinitas yang entah bagaimana aku harus mendeskripsikan. Yang jelas semester ini bakal berbeda dengan semester-semester sebelumnya. Bahakan kurasa tidak ahanya berbeda tapi sangat berbeda. Ya iyalah bakal BEDA BANGET! Nggak mungkin semester dengan lima praktikum setiap minggu bisa sesantai sebelumnya (emangnya sebelumnya santai? –a). Bahkan dua minggu pertama sudah sangat cukup member gambaran nanti ke depannya. Sepertinya aku agak tidak siap kembali menjalani rutinitas sebelumnya setelah terjeda libur cukup panjang yang rasanya bener-bener liburan :p
Hohoho kuliah di jurusan yang nggak mudah (buat dapet nilai bagus) dan materinya juga waw (karena dosennya terlalu jenius kali ya jadinya aku nggak ngampe –a) sangat butuh perjuangan. Bukan perjuangan apa-apa tapi perjuangan buat menaklukkan diri sendiri. Buat rajin dateng kuliah, duduk dengan manis di kelas sambil dengerin baik-baik penjelasan dosen. Kalo perlu nanya yang nggak ngerti. Tugas nggak pake di tunda (walopun sekarang masih tpi udah lebih mending dari sebelumnya kok). Dateng nggak telat (ini juga telatnya udah mendingan lah kalo bandingin dulu tapi tetep harus berusaha nggak telat). No more sleep in the class (Yang ini selama 2 minggu ini berhasil. Yeay 😀 sampe pada heran :P) dan satu lagi nggak banyak bolos (kalo nggak bolos sama sekali susah kayanya lebih tetaptnya nggak mungkin soalnya kemaren aja udah ada yg bolos –a) à *tiba-tiba mikir emang dulu aku sebegitunya banget ya –a*
Yah, yang jelas hasil semester lalu cukup banget lah buat jadi peringatan. Nggak perlu lah peringatannya sampe nilainya terjun bebasnya sampe dasar jurang. Target buat semester ini nilainya HARUS lebih baik dari semester 1. Berapa? Yah pokoknya harus lebih baik! Mboh piye carane!  Ikhtiar maksimal dan do’anya harus dikuatin nih.
Punya temen-temen yang super sekali di jurusan sedikit banyak ngaruh juga ke aku. Gimana mau nggak ngaruh kalo bahkan yang lebih khawatir sama nilaiku itu temenku yang udah nggak tau gimana lagi musti bilangin aku biar rajin ngerjain tugas dan nggak telat dan bolos *cerita semester lau*. Gimana aku bisa terus-menerus cuek sama tugas-tugasku kalo temen-temenku pada rajin-rajin banget kaya gitu. Walaupun sebenernya kerajinan mereka cukup buat aku stress dan minder sendiri sih.hehe Tapi sepertinya aku harus bersyukur punya temen-temen kaya mereka. Sangat-sangat bersyukur. Karena ada mereka aku bisa liat catetan kalo punyaku nggak lengkap. Karena ada mereka aku bisa nanya kalo aku nggak bisa buat tugas atau ada materi yang belum ngerti. Love you guys! Sadar atau nggak sadar #geodeleven mempengaruhi hidupku. Tanpa kalian aku nggak akan kaya gini.
Kalo dipikir-pikir belakangan aku nggak jelas, random, dan nyebelin itu bukan karena apa-apa atau siapa-siapa. Tapi karena diri sendiri kok. Lebih karena nggak belum siap ngadepin situasi kaya gini dan kecewa sama diri sendiri. Well, masih harus banyak belajar dan berguru sama banyak orang nih. Kalo perlu berguru sama alam juga deh. Dan aku ngerasa bersalah banget karena yang kena malah orang-orang deket aku. Sory banget guys L

Oke, sekalian deh pengen minta maaf sama orang-orang di sekitarku yang banyak tersakiti, direpotin, kesel, marah dan segala rupa.. Sengaja atau nggak sengaja aku tetep salah. Jadi aku minta maaf buat semua hal yang tidak mengenakkan belakangan ini yaaa. Kalo ada yang bisa kulakuin buat nebusnya bilang deh. Tapi jangan minta yang aneh-aneh yaa :p
Setelah ini berarti yang ada adalah perubahan menuju lebih baik. Suka-suka orang dah mau bilang apa. Yang jelas aku punya targetan sendiri dan aku cukup bangga kalo aku bisa ngelewatin target yang aku buat untuk semester ini. Chayooo!! Ganbatte!! 😀 😀 😀
-dan beberapa targetan lain  yang tidak aku bagi ke semua orang atau bahkan hanya aku dan Alloh yang tahu-

#UAS

Ketika diniatkan karena Alloh insyaAlloh tidak akan ada kata menyesal
Ketika diniatkan karena Alloh tentunya tidak ada kata malas dan menunda
Ketika diniatkan karena Alloh maka semua hal akan terasa ringan pun dgn belajar
Ketika diniatkan karena Alloh apapun yg terjadi bukan mjdi penghalang yang menurunkan semangat
Ketika diniatkan krna Alloh maka tdk lagi perlu alasan lain untk memperjuangkanny 
 Ketika diniatkan karena Alloh tantangan apapun akan dihadapi dgn tersenyum
Karena Alloh bahkan lebih mengetahui mana yang lebih baik bagi kita
Dia akan memberikan bukan hanya apa yang kita minta
Tetapi apa yang memang kita butuhkan
Semangat #UAS 
Semangat belajar karena Alloh


note:
Target untuk semester ini adalah nilai A untuk semua mata kuliah.
Mimpi dan target gratis kok lalu kenapa harus buat mimpi yang biasa saja
Tinggal bagaimana usaha untuk mendapatkannya
Bismillah..
Billah,, fillah, lillah,, 🙂