Kado

Tidak ada kotak yang terbungkus kertas kado
Tidak pula kue berhias dan lagu
Atau kejutan gempita membahana
Hanya ada untaian panjang do’a dalam sunyi dan sepi
Untukmu yang tak akan pernah terganti

Peluh, darah, dan air mata bukti pengorbanan
Tidak akan sebanding dengan dunia
Kenikmatan kekal yang pantas menjadi harga
Sembah takzimku tak akan pernah pernah cukup membayarnya
Kasih dan do’a tulusmu sepanjang perjalanan
Tanpa pinta tanda jasa
Tanpa harap kembali apapun
Tulus ikhlas lepas diberikan

#day5
0511. Barakallah fii umrik. Tak ada yang lebih kuharapkan untukmu selain anugerah surga sebagai ganjaran seluruh jerih payah dan pengorbananmu. Satu hadiah yang ingin kusematkan padamu, sebuah mahkota kemulian dari sisiNya. Semoga Allah beri umur dan kesempatan menyelesaikannya. Aku sayang sekali padamu. Maaf karena tidak mengucapkan apa-apa langsung dihadapanmu. 

Tulisan ini aku dedikasikan untuk dia yang tidak akan tergantikan. Surgaku ada di telapak kakinya.

Advertisements

Pulang

Hari ini aku merasa kembali ke rumah. Setalah sekian lama melanglang buana, berkelana, berpetualang. Meninggalkan kebiasaan yang sempat terpelihara di awal perkuliahan. Terjun lansung ke masyarakat. Membaur, berperan serta dan benar-benar mengurusi segala macam urusan di kampung. Amimbarroh, TPA, Wiyoro Kidul. Dan aku dibuat takjub dengan kerja sama dan gotong royong masyarakat. Bukan karena belum pernah melihat sebelumnya tapi karena baru kali ini benar-benar memperhatikan.

Setelah subuh tepat, pengumuman dari pengeras suara masjid sudah terdengar yang menginfokan kepada seluruh panitia dan muda-mudi yang bertugas untuk segera menuju masjid. Mempersiapkan tempat dan semua bahan yang dibutuhkan untuk jalannya acara jalan sehat dalam rangka menyambut datangnya Ramadhan. Dimulai dengan mempersiapkan snack lebih dari 500 bungkus, menata meja untuk menyusun door prize, juga menata gelas dan air meneral untuk minum peserta acara.

Waktu yang dihabiskan untuk menyelesaikan bungkusan snack tidak lebih dari 1.5 jam. Bahkan untuk menata meja tidak kurang dari 30 menit semua sudah tertata rapi. Rasanya seolah baru menoleh sekejap dan semua sudah tertata ketika menoleh untuk kedua kalinya. Peserta tidak ketinggalan juga bersemangat untuk datang. Tiga puluh menit dari pembukaan masyarakat sudah mulai berdatangan memenuhi jalanan sekitar masjid. Partisipasi dan antusias masyarakat dalam mengikuti acara ini rasanya benar-benar membuat hati bungah dan bahagia.

Baru kali ini dalam dua puluh dua tahun kehidupanku aku berberan aktif dan berpartisipasi sampai akhir acara termasuk membereskan lokasi menjadi sedia kala. Rasanya menyenangkan membaur dan bekerja sama dengan teman-teman yang tinggal di kampung yang sama. Aku bahkan ikut dalam prosesi pembagian door prize. Mengambil kupon undian, merobek kupon yang sudah terbaca dan memberikan hadiah pada pemenang. Melihat senyum dan kebahagian di wajah orang-orang rasanya tidak ternilai harganya.

Aku bersyukur Allah masih memberiku kesempatan untuk merasakan kenikmatan ini. Semoga ini hanyalah awalan untuk rangkaian yang semakin banyak di belakang hari ini.

My Mum is Amazing

http://www.youtube.com/watch?v=0OKndnaiFzo

My Mum is Amazing-Zain Bikha

She wakes early in the morning with a smile
And she holds my head up high:
“Don’t you ever let anybody put you down –
‘Coz you are my little angel”

Then she makes something warm for me to drink –
‘Coz it’s cold out there, she thinks
Then she walks me to school – yes, I ain’t no fool
I just think my mum is amazing

Chorus

She makes me feel –
Like I can do anything
And when she’s with me
There’s nowhere else I’d rather be

After school, she’s waiting by the gate
I’m so happy that I just can’t wait – 
To get home to tell her how my day went
Eat the yummy food only my mum makes

Then I wind her up ‘coz I don’t want to bath
And we run around the house with a laugh
No matter what I say, she gets her way
I think my mum is amazing

(Chorus)

In the evening, she tucks me into bed
And I wrap my arms around her head
Then she tells me a tale of a girl far away –
Who one day became a princess

I’m so happy – I don’t want her to leave
So she lies in bed with me
As I close my eyes, how lucky am I –
To have a mum that’s so amazing

(Chorus)

Then I wake up in the morning – she’s not there
And I realise she never was
And I’m still here in this lonely orphanage –
With so many just like me

And as my dreams begin to fade
I try hard to look forward to my day
But there’s a pain in my heart that’s a craving:
How I wish I had a mum that’s amazing

Would be amazing

Tiba-tiba ngerasa pengen meluk umi ({})

Beliau sosok yang lebih dari cukup buatku untuk jadi contoh dan jadi teladan. Bagi beliau sudah keseharian memberi pelajaran dengan contoh bukan hanya sekedar memberi perintah. Puasa, shalat dhuha, memuliakan tamu, sopan santun, mengatur waktu, melayani, memaafkan, hampir semua hal beliau ajarkan tidak hanya lewat nasehat. Apa yang beliau katakan juga beliau lakukan dan aplikasikan dalam hidup beliau sendiri. Itu alasannya kenapa aku jarang merasa keberatan bila diingingatkan. Karena beliau sudah menerapkannya untuk beliau sendiri.

Untukku Umi contoh yang sangat baik sebagai ibu, istri dan anak. Aku yang seperti saat ini tidak lepas dari peranan beliau sebagai ibu. Siapa lagi yang akan menjadi guru paling hebat bagiku yang sudah mengajariku membaca bahkan sejak sebelum aku berada di Taman Kanak-kanak jika bukan sosok yang selalu sabar menghadapiku yang sangat ngeyel ini. Umi yang selalu memberikan pilihan hidup sesuai apa yang kumaui dengan satu catatan, tanggung jawab terhadap keputusan yang dibuat. Mau jungkir balik ikut organisasi kaya apa terserah aja yang penting hasil akademik nggak ikutan jungkir balik. Mau ngatur rencana akademik kaya apa terserah aja yang jelas konsekuen dengan pilihan yang dibuat dan tanggung jawab. Pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan dan rencana masa depan di antara selingan obrolan ringan cukuplah menjadi bukti perhatian beliau. Cara Umi ‘memaksa’ku untuk bisa memasak juga sangat manis. Beliau adalah ibu terbaik sepanjang zaman untukku. My Mum is Amazing 😀

Sebagai istri, Umi adalah sosok yang sangat mandiri. Kalau aku bilang, beliau itu tipe istri idaman. Masak jago. Jahit bisa. Bikin kue biasa. Ngerajut, nyulam bisa. Kreatif banget. Ngerjain kerjaan rumah kaya pasang paku dan perkakas dikerjain sendiri. Naik motor lancar. Bahkan sekarang belajar nyetir mobil. Perhatian.Pintar. Bahkan masih terus belaja sampai sekarang. Mandiri dan nggak manja. Semua pekerjaan yang beliau bisa bakal dilakukan sendiri tanpa merepotkan Abi. Jadi, kalo aku punya standar yang cukup tinggi buat diri sendiri wajar lah ya. Secara orang yang jadi panutan saja standarnya setinggi itu :3

Umi anak yang baik. Sangat baik malah kalo buatku. Baik di mata orang tuanya dan juga anak yang baik di mata orang tua Abi. Umi selalu menyempatkan untuk pulang ke tempat simbah setuap tahun minimal dua kali. Tidak jarang ketika pulang itu Umi membawa hadiah. Kepada simbah dari Abi, Umi juga sangat baik. Sering beliau membuatkan makanan, kue atau apapun yang membuat mereka senang. Menantu dan anak yang baik.

Kalau aku punya keinginan suatu saat nanti anak-anakku akan memelukku dan berkata “Thank you mom, you are the best mom in the world. Thank you for being my superb mother” maka saat ini ucapan itu lebih dari pantas aku persembahkan untuk Umi. Tinggal tunggu saatnya saja sampai aku benar-benar memeluk beliau dan membisikkan itu di telinganya 😀

Tulisan random malam terakhir ujian UAS semester 5
Salam ta’dzim untuk Umi dari putrimu
Maaf masih banyak mengecwakan dan sering membuatmu marah >.< 

Yogyakarta, 16 Januari 2014
02.01

Dilema Rumah di Jogja

Siapa yang bilang rumah di Jogja itu menyenangkan? Terutama jika jarak tempuh kampus ke rumah merupakan jarak yang ‘tanggung’. Tidak dekat tapi juga rasanya terlalu sayang jika harus menganggarkan biaya untuk mengontrak atau kos. Rumah di Jogja itu seperti pisau bermata dua. Di satu sisi ada begitu banyak hal menyenangkan dan keuntungan yang didapat karena tinggal di rumah. Namun di waktu yang bersamaan ada banyak tuntutan dan juga ‘etika’ yang harus dipenuhi. Dan bukan perkara mudah untuk ‘melegakan’ permintaaan dari rumah. Seringkali akhirnya terjadi perang batin yang menguras fikiran dan tenaga. mungkin memang terdengar berlebihan tapi begitulah kenyataannya.
Siapa yang menyangkal jika setiap kali makan bisa pulang dan menghemat uang saku adalah sesuatu yang menyenangkan? Kurasa semua pasti setuju. Lalu jika jarak tempuh untuk pulang ke rumah bukan waktu yang singkat bagaimana? Apa yang tidak menyenangkan dari bisa tidur di kamar milik sendiri di tempat yang notabene adalah tempat paling nyaman untuk istirahat? Kemudian bagaimana jika ketika pulang ke rumah ternyata malam sudah kian larut dan badan rasanya sudah berteriak minta istirahat sedang masih ada jarak dan waktu yang harus dilewati untuk sampai rumah? Manalah hal yang tidak menyenangkan jika ketika ingin makan selalu ada makanan yang tersedia? Apa yang tidak enak dari memiliki banyak saudara yang bisa dimintai bantuan ketika tugas yang begitu banyak datang? Apa yang tidak enak dari selalu dapat berdekatan dengan kedua orang tua sedang yang lain harus merantau jauh?
Semua fasilitas yang diperoleh ketika tinggal di rumah sebenarnya harus dibayar mahal. Ada banyak hal yang kemudian harus diperhatikan. Ada hak-hak keluarga yang kemudian harus ditunaikan. Ada kewajiban kepada masyarakat yang sepantasnya dijalankan. Ada perhatian, waktu, dan pikiran yang kemudian harus diberikan kepada mereka. Lebih kecil ruang egois untuk diri sendiri. Karena selayaknya inilah dunia nyata. Inilah kehidupan bermasyarakat.
Betapa sedih ketika sampai detik ini rasanya belum bisa adil dalam menunaikan hak-hak mereka. Terenyuh rasanya ketika ditanya, “mbak, kapan di rumah? kapan bisa bantuin yang di rumah? kok pulangnya malam terus?” Penyesalan sering menghantui ketika kemudian ketika kekecewaan terucap, “Takkira kamu mau pulang mbak. Aku mau tanya matematika” Sungguh tidak ada niatan sama sekali untuk mengabaikan yang di rumah. Karena bagaimanapun merekalah orang terdekat kemana aku akan mencari pertama kali jika terjadi sesuatu. SIlakan, silakan sampaikan jika kalian memang membutuhkanku, sampaikan jika kalian ingin aku membantu. Akankah aku menjawab tidak jika ditanya “mbak, besok bisa bantuin umi? “ Percayalah aku akan mengusahakan semaksimal yang aku bisa.
Mungkin salahku karena belum sanggup mengatur waktu dengan baik ketika kemudian tidak bisa menyelesaikan tugas-tugas rumah sebelum berangkat ke kampus. Bahkan sekedar menyapu dan cuci piring seringkali terlewat. Mungkin memang aku harus menjadi kakak yang lebih baik dan perhatian sehingga tahu kapan kalian membutuhkanku. Seharusnya aku bisa membantu kalian bahkan tanpa kalian harus memintanya. Mungkin aku masih harus lebih pandai lagi mengatur jadwal sehingga kewajibanku untuk member manfa’at untuk masyarakat tidak hilang. Agar bisa lagi menghadiri rapat rutin remaja masjid setiap malam kamis yang hanya dua pecan sekali itu. Juga bisa kembali mengajar adik-adik penuh semangat di TPA.
Siapa yang bilang tinggal di rumah bisa bermanja-manja? Siapa yang bilang tinggal di rumah bisa seenaknya? Siapa yang bilang tinggal di rumah bisa berbuat dan meminta kepada orang tua sesuka hati? Siapa bilang tinggal di rumah lalu bisa pergi dan pulang ke rumah semaunya?
Ketika tinggal di rumah, justru di sanalah real kehidupan. Tinggal di rumah berarti menjadi bagian dari masyarakat. Ada norma-norma yang kemudian tidak bisa diabaikan. Pulang malam apalagi bagi seorang perempuan tentunya bukanlah hal yang bijak. Tidak pernah muncul dalam kegiatan yang ada di masyarakat juga bukan hal yang wajar. Mengabaikan hak-hak keluarga yang setiap hari bertemu juga bukanlah hal yang baik. Banyak, masih begitu banyak hal yang harus diperbaiki lagi dariku.
Sejuta maaf tak akan sanggup mengganti hati-hati yang sempat terluka karena sikapku. Namun, ijinkan aku meminta segenggam maaf dari kalian bersama janji dariku untuk berusaha menjadi lebih baik lagi. Semoga pada akhirnya aku dapat seutuhnya menjadi bagian dari masyarakat, menjadi anak juga kakak yang baik dan dapat dibanggakan.
Laa yukallifullohu nafsan illa wus’ahaa. Tiadalah beban itu diberikan kecuali dia mampu menanggungnya. Yaa muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala tho’atik, tsabbit qolbii a’la diinik. Semoga niat ini senantiasa terjaga hanya untuk mendapat ridhoMu Ya Alloh…