Episode

Dua puluh lima bukan angka yang sedikit untuk menghitung waktu yang terlewati. Entah berapa banyak episode yang terlewati. Berapa banyak cerita yang dapat terangkai. Berapa banyak kata yang dapat terangkai untuk menuturkannya. Jika sebegitu banyaknya yang dapat diceritakan olehmu sebagai manusia dengan segala keterbatasannya, lalu seberapa detil rekaman yang dimiliki malaikat yang terus setia mengiringimu?

Waktu yang menjadi jatah masing-masing laksana es batu di bawah terik. Tidak peduli digunakan atau diabaikan begitu saja pada saatnya tetap akan habis. Menjadi pilihan masing-masing untuk menyibukkan diri dalam kebaikan atau membiarkan diri terlena. Menjadi manusia yang berarti atau justru membebani. Sedang sejatinya setiap episode seharusnya menjadi bagian dari penyusun kepingan cerita yang akan ditukar dengan tiket kebahagiaan nanti di kehidupan yang abadi.

Maka benarlah istiqomah merupakan sesuatu yang harus diminta. Lingkungan dan lingkaran sosial yang baik merupakan karunia. Kendatipun jalan kebaikan merupakan pilihan tapi akan terasa jauh lebih mudah ketika banyak faktor yang mendukung. Sehingga setiap episode yang kemudian terangkai seluruhnya adalah kebaikan. Apalagi yang lebih baik dari cinta, rahmat dan keberkahan dari-Nya dalam hidup kita?

Teguran

Teguran dari Allah adalah salah satu bentuk penjagaanNya. Lewat teguran itu kita diarahkan untuk kembali berada pada jalan yang seharusnya. Teguran itu dapat mewujud sebagai apa saja. Adakalanya teguran itu berupa materi kajian yang ternyata menyentil kita. Atau diperoleh dari menyaksikan kisah disekitar kita. Sebaris kalimat yang dikeluarkan oleh beliau yang kita hormati sehingga susah untuk diabaikan. Atau dalam bentuk apapun. Dari mulai teguran lembut yang tidak terasa bagi mereka yang tidak peka atau bahkan teguran yang keras menusuk jiwa. 

Setitik kesombongan di hati yang mungkin saja tidak disadari dapat membuat kita ditegur Allah. Allah tegur tidak hanya lewat kata-kata nasihat seseorang kepada kita tetapi dengan Allah jungkir balikkan rencan yang sudah disusun dengan mudahnya. Hanya dalam hitungan detik. Karena satu baris kalimat. Begitu berkuasanya Allah atas segala sesuatu.

Pada kesempatan yang lain teguran itu datang lewat artikel atau tulisan yang menyentil telak nurani kita. Menunjukkan seberapa jauh jalan yang dilalui telah berbelok dan perlu untuk kembali. Atau suatu ketika Allah singkap sedikit saja sebuah aib dihadapan orang lain. Bisa jadi itu adalah teguran karena menyi-nyiakan karuniaNya yang menjaga keburukan kita dengan terus mengulan keburukan tersebut.

Serentetan agenda yang berantakan karena terlalu banyak maksiat yang dilakukan. Atau keresahan di hati karena melakukan perbuatan buruk. Mungkin saja keduanya adalagh bentuk lain dari keduaNya. Teguran yang datang dalam bentuk halus tidak selalu disadari. Butuh kepekaan untuk menyadari ada yang butuh dibenahi lagi. Ada yang Allah tidak sukai dari kita. Ada yang Allah cemburui pada kita. 

#day11

Semoga Allah senantiasa menjaga kita. Tidak Dia biarkan kita terlena dalam keburukan dan tidak lagi merasa bersalah karena maksiat kita sebagai bentuk Allah tidak lagi peduli. 

Kehidupan

Rinai hujan masih setia menemani
Melengkapi hawa dingin yang menyelimuti
Menghapus jejak terik mentari
Menghadirkan aroma tersendiri

Aku masih di sini
Menghabiskan sisa usia yang menjadi misteri
Menanti kunjungan izrail yang sudah pasti
Berharap setiap langkah memiliki arti

Aku masih di sini
Berusaha menjauhkan dunia dari hati
Meletakkannya dalam genggaman
Menjadikannya peluang kebaikan

Aku masih di sini
Bersama lautan kesalahan
Yang selalu mengharap ampunan
Dijauhkan dari siksa di ujung kehidupan

#day10

Kematian

Misteri yang pasti akan datang. Sesuatu yang tak terindera tapi nyata adanya. Bahkan waktu pun tidak dapat mendefinisikan kapan pastinya ia akan datang. Menjemput setiap kehidupan. Kullu nafsin dzaiqotul maut. JanjiNya adalah kepastian. Lalu apa yang sudah kita siapkan?

Aku, kamu, kita semua pada saatnya akan pergi. Meninggalkan semua kefanaan. Berjalan ke arah pengadilan amalan. Tak lagi ada kekayaan dan segala kemewahan yang bisa dibawa. Hanya lembaran kafan dan amalan yang menemani. Lalu amalan apa yang akan kita minta untuk menemani?

#day9

Semoga ujung hidup kita adalah khusnul khotimah. Diperkenankan olehNya bertetangga dengan kekasihNya di surga abadi. 

Teratur

Keindahan Islam tampak pada semua aspek. Ketika dicermati lebih jauh ada begitu banyak perintilan yang terkesan remeh temeh tapi justru menunjukkan jika Islam sangatlah teratur. Adab-adab Islam sangat lengkap mengatur seluruh aktivitas. Selain itu ada paket lengkap yang dapat dijadikan contoh. Manusia terbaik, Rasulullah shollallohu ‘alaihiwasallam. Sunnah-sunnah beliau baik dalam bentuk hadis maupun tindakan menunjukkan berbagai keteraturan.

Tindakan sepele yang mungkin terlupa seperti mendahulukan yang kanan ketika melakukan kebaikan jika diperhatikan dan diterapkan maka tidak mungkin tidak rapi dan teratur. Sebagai contoh, untuk masuk masjid kaki kanan didahulukan dan keluar dengan kaki kiri. Kemudian menggunakan alas kaki dengan mendahulukan kaki kanan. Rangkaian kegiatan sepele yang sering kita lakukan tersebut jika dilakukan terus menerus secara tidak langsung mendidik kita untuk tidak terburu-buru. Karena tidak mudah keluar dengan kaki kiri tetapi mendahulukan kaki kanan untuk memakai alas kaki ketika tergesa-gesa. Selain itu, kita diajarkan untuk menyelesaikan satu perbuatan secara sempurna untuk kemudian baru berpindah ke pekerjaan selanjutnya.

Seberapa sering kita tidur dengan kondisi berwudhu dan didahului do’a? Ketika kita konsisten untuk dapat melakukannya maka kita belajar untuk mempersiapkan segala sesuatu. Apakah kita akan ingat untuk berdo’a sebelum menutup mata jika tertidur dan bukannya berniat untuk tidur? Perbuatan yang sepertinya tidak penting tapi mungkin saja menjadi penentu akhir kehidupan jika ternyata kita tidak pernah bangun lagi.

Begitu banyak adab-adab yang menjadikan kehidupan seorang muslim teratur dan indah. Tentunya ketika semua itu dilakukan dan bukan hanya berhenti sebagai bacaan. Allah itu indah dan menyukai keindahan. Satu hadis singkat tersebut sepertinya cukup mewakili bagaimana seharusnya seorang muslim terlihat.

#day8

 

Waktu Istimewa

Waktu yang terpaksa habis di jalanan bagi manusia-manusia tanggung semacam Saya ini ternyata cukup banyak. Minimal 1 jam perjalanan dalam waktu satu hari. Itu diluar perjalanan lain yang membutuhkan waktu singkat dan dalam rute pendek. Cukup banyak sampai rasanya sayang sekali jika berlalu begitu saja.
Menjadi salah satu keinginan, waktu dalam perjalanan itu dapar diisi dengan mengulang kembali hafalan. Rasanya cukup banyak ayat yang dapat diulang dalam rentang waktu yang cukup panjang itu. Tentunya jika hafalan yang dimiliki cukup baik sehingga tidak habis hanya untuk mengingat. Atau minimal lisannya selama dalam perjalanan basah dengan dzikir atau lantunan do’a. Ketimbang hanya bengong atau memikirkan hal-hal tidak penting. Sayang sekali waktu yang dapat diisi dengan hal yang bermanfaat berlalu begitu saja. 
Nyatanya tidak mudah membawa ke arah seperti itu. Mengisi dengan muroja’ah tidak selalu berjalan lancar ketika ada ayat yang terlupa. Atau justru kadang malah lupa untuk mengisi waktu dalam perjalannan tersebut dengan sesuatu yang bermanfaat. Tapi justru karena tidak mudah itu ia menjadi istimewa. Seistimewa mereka yang dapat mengisi waktu-waktu antara tersebut dengan kebaikan berlimpah. 
#day7

Dan pada saatnya nanti akan ditanyakan padamu, untuk apa waktumu kamu habiskan. Siapkah kita dengan jawaban yang kita miliki?

Dijaga dan Menjaga

Selamanya ketaatan tidak pernah sejalan dengan kemaksiatan. Sepertinya benarlah kalimat itu. Linier dengan keimanan yang naik dengan ketaatan dan turun karena maksiat. Taat dan maksiat akan selalu berbanding terbalik. Kebaikan dan keburukan itu rasanya saling terkait satu sama lain. Ketika ada satu kebaikan yang dilakukan, kebaikan itu seolah memancing kebaikan-kebaikan lain dan berlaku pula untuk kemaksiatan.

Salah satu pesan Rasulullah SAW kepada Ibnu Abbas suatu ketika, Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu. Pesan yang sarat makna dan perlu untuk diingat-ingat. Dunia penuh tipu daya, perlu sesuatu untuk memastikan kita selamat melewatinya. Tidak ada yang memiliki penjagaan yang lebih baik dari Dia, Sebaik-baik Penjaga. Maka sewajarnya kita menjaga diri dengan menjaganya.

Berusaha untuk selalu menjagaNya dan kamu akan mendapati ada banyak kebaikan yang menghampiri. Entah dalam bentuk apa. Jika orang yang mengisi waktunya dengan kesia-siaan adalah bagian dari mereka yang merugi, maka bersyukurlah ketika Allah memberi kesibukan yang bermanfaat. Mungkin itu caraNya menjagamu. Ketika rutinitas harian baik dan rasanya enggan untuk melakukan hal yang aneh-aneh, bisa jadi itu bagian dari penjagaanNya untukmu. Ketika ada rutinitas yang berkurang kualitas dan kuantitas dan masih ada rasa bersalah, bisa jadi itu masih menjadi pertanda Dia masih menginginkan kebaikan ada padamu. Berusahalah untuk selalu dekat dan mendekat. Ketika tersadar sudah mulai menjauh, berhenti, kemudian berbalik untuk kembali. Agar senantiasa ada dalam penjagaan terbaik.

#day6

اخفظ الله يخفظك

 

Manusia Terbaik

manusia-terbaik

Manusia terbaik dalam sudut pandang Allah dan Rasul-Nya ternyata memiliki kriteria tersendiri. Dalam waktu yang cukup lama kupikir hanya orang yang paling bertakwa dan paling banyak manfaatnya yang memiliki ciri-ciri manusia terbaik. Mereka yang paling bertakwa tersebut dalam Al Qur’an dan yang paling bermanfaat untuk sekitarnya disabdakan oleh kekasihnya. Ditambah mereka yang belajar Al Qur’an dan mengamalkannya mungkin. Sampai suatu ketika dalam sebuah kajian aku tahu jika banyak ciri manusia terbaik. Banyak jalan dan peluang yang bisa diambil untuk menjadi manusia terbaik. Jalan yang dapat diambil sesuai dengan porsi dan kemampuan. Mana yang paling dekat dan paling ringan untuk dilakukan.

#day2

Semoga Allah mudahkan untuk terus berproses menjadi lebih baik menjadi manusia terbaik

November

Seperti apapun kegiatan yang dilakukan, waktu terus bergulir. Tanggal di sudut bawah layar laptop menunjukkan awal November. Terdiam sejenak, banyak kilas memori dan angan yang berkelebat. Menerbitkan senyum manis sekaligus getir seiring memori dan angan yang yang silih berganti. Setidaknya semua masih bisa diwakili dengan senyuman sekalipun sebagai bentuk penghibur diri. 

Tidak ada waktu yang terlalu istimewa atau terlalu menyedihkan. Momen yang memiliki kenangan khusus lebih disebabkan karena alasan emosional. Baik itu bahagia atau justru sebaliknya. Setidaknya semoga masih terselip kesadaran bahwa setiap detiknya akan ditanya.

Ada do’a yang melangit bersama kerja sebagai pembuktian. Ada laku yang menjadi berwujudan iman. Seiring iman yang naik bersama ketaatan dan luruh bersama kemaksiatan. Pilihan kegitan yang mengisi hari, ketenangan jiwa, sikap dan ucapan sering kali mampu menjadi penanda sejauh apa kondisi iman berubah. Karena sejatinya iman takakan pernah sejalan dengan kemaksiatan. 

Bersama bulan baru yang menyapa, bersama angan yang dilangitkan kembali lewat do’a-do’a di penghujung malam dan sujud-sujud panjang, istighfar yang mungkin bahkan perlu diistighfari, semangat dan tekad untuk terus berproses menjadi lebih baik harus terus dan terus diperbarui. Membuka kembali rencana yang disusun sekaligus memperbaiki rencana yang memerlukan penyesuaian. Asa yang belum tercapai tidak serta merta menjadi bukti kegagalan. Bisa jadi Allah sudah menyiapkan gantinya di waktu yang lebih baik. Mungkin ada usaha lebih keras yang ingin Dia lihat. Mungkin ada do’a yang lebih khidmat yang ingin Dia dengar. Pada hakikatnya kita yang membutuhkan setiap laku dan kebaikan yang kita lakukan. 

#day1 

Semoga bisa kembali rutin mengisi rumah ini. Bersamaan dengan menyelesaikan tugas lain di dunia nyata. 

Episode yang Tidak Mudah

Kurasa sekarang aku tahu rasanya tidak mudah untuk menyelesaikan kuliah. Sepertinya aku mulai mengerti mengapa ada yang tidak kunjung selesai padahal ‘hanya’ tinggal menyelesaikan tugas akhir. Mungkin salah satu alasannya seperti yang aku alami saat ini. Ada saja hal yang muncul dan seolah menjadi pembenaran alasan mengapa belum juga selesai. Walaupun aku sendiri tidak cukup mengerti penyebab tidak terangkainya kalimat demi kalimat yang seharusnya menyusun kesatuan tugas akhir. Mungkin memang ada alasan-Nya sehingga ada yang ditangguhkan untuk segera menyelesaikan.

Aku baru merasakan saat ini mengingat setahun lalu kendatipun melewati hal yang sama tapi tidak mendapati kesulitan untuk menulis. Mengejar semuanya untuk selesai dalam hitungan hari bahkan Allah berikan walaupun dengan penuh perjuangan. Lalu ketika dihadapkan dengan kondisi yang sama dengan tantangan yang berbeda rasa butuh lebih banyak tasbih untuk menguatkan diri. Apalagi yang dibutuhkan untuk bisa menulis ketika sudah memahami apa yang kamu kerjakan dan tahu apa yang harus ditulis tetapi rangkaian kalimat tidak juga tersusun? Mungkin itu memang isyarat untuk semakin merunduk, meminta dan meminjam kekuatan-Nya karena semua dalam genggaman-Nya bukan?

Ketika waktu yang dimiliki semakin sempit, kekhawatiran semakin memuncak, sesak semakin menjadi apalagi yang lebih dibutuhkan selain pertolongan-Nya. Ketika seolah tidak ada lagi daya untuk bertahan menyelesaikan siapa lagi yang bisa dijadikan sandaran jika bukan Dia. Mungkin ini saatnya mengimplementasikan teori yang dipelajari bertahun-tahun agar mewujud menjadi pengalaman yang dapat diambil hikmah. Tentang kesabaran, kepercayaan, tawakal, usaha dan do’a yang tak boleh putus. Bisa jadi ini menjadi ladang ujian pembuktian keimanan. Akankah bertambah atau justru meluruh bersama kefuturan.

Jika Allah senang mendengar pinta dari hamba-Nya apa yang menghalangi untuk terus berdo’a. Jika janji-Nya adalah kepastian tidak ada alasan untuk berputus asa pada rahmat-Nya bukan? Setiap pinta pasti dijawab. Mungkin memang dalam bentuk lain selain yang dipinta tetapi pasti itu lebih sesuai dengan kebutuhan. Percaya saja Dia lebih tahu apa yang terbaik. Dan ketika kehendak-Nya berjalan bahkan semesta tak akan kuasa menolak.

Teruslah bertahan tanpa putus harapan. Tetaplah tersenyum ketika kehidupan terlihat suram. Teruslah berjalan dengan sepenuh keyakinan. Ada Dia yang menggenggam segala urusan. Dan percayalah semua akan berlalu pada saatnya. Bersama lembaran baru yang datang menggantikan episode yang lama. Ada lakon lain yang masih menanti untuk dimainkan. Maka teruslah berjalan dan bertahan sampai ketentuan itu datang.

Bersama dekapan do’a yang dikirimkan dari penjuru muka bumi, semoga Allah mudahkan segala urusan dan berikan yang terbaik. Terbaik dalam kaca mata dan parameter-Nya.

Sudut kamar atas pada penghujung malam yang sunyi,
2.24 WIB