Moment to Remember

 

August 20th, 2015

Fight for the next graduation
See you at July or August.
hopefully everything finished before June

Advertisements

Self Reminder

Membuka-buka tulisan lama sering kali menjadi salah satu hal yang dapat menjadi pengingat. Memaksa semangat untuk kembali. Menyegarkan lagi gambaran yang sempat buram. Meluruskan niat yang sempat beralih. Sama halnya dengan blog walking, selau ada sesuatu yang dapat diresapi ketika membaca kembali tulisan-tulisan yang tersimpan. Dan tulisan yang pernah ditulis rasanya lebih menohok dibandingkan tulisan orang lain. Membaca tulisan lama seolah memandang kembali masalah di masa lalu dan memanggil kembali pemecahan masalah yang pernah dilakukan. Sering kali kejadian saat ini hanya pengulangan masa lalu dalam bentuk lain.

Senyum miris menjadi ekspresi yang paling memungkinkan muncul ketika mendapati saat ini seolah lebih lemah dari masa lalu ketika menghadapi hal yang sama. Ekspresi yang selalu diusahakan diubah menjadi senyum optimis yang meyakinkan dir bahwa semua hal akan terlewati seperti semua yang sudah berlalu. Kejadian di masa lalu menjadi pengingat dan gambaran untuk menyusun gambaran di masa depan. Pengalaman selalu menjadi guru yang tak tergantikan.

Selalu ada hal yang berubah atau paling tidak diusahakan berubah menjadi lebih baik. Walaupun ada kalanya ada seiring dengan itu ada sisi lain yang menurun dan meminta perhatian pula. Memperbaiki diri sendiri adalah proses seumur hidup sampai saatnya kembali nanti. Sejalan dengan iman yang bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Selama setan masih sanggup berbisik dan menghembuskan kemaksiatan meski hanya dalam lintasan pikiran maka selama itu perbaikan masih harus berjalan.

Mengingat masa lalu dengan segala kemudahan dalam munajat dan interaksi dengan Al Qur’an berulang kali membuat terdiam. Membayangkan kembali segala aktifitas yang dilakukan baik saat ini maupun di masa lalu. Kemudian berusaha untuk kembali pada frekuensi saat itu. Hanya satu yang perlu dikalahkan untuk mencapainya. Hawa nafsu. Yang sayangnya dengan segala keburukan yang masih pekat di sekeliling ini itu bukanlah hal yang mudah.

Membaca kembali asa dan cita untuk menyempurnakan hafalan memunculkan serentetan pertanyaan untuk diri sendiri. Akankah selesai sesuai dengan yang direncanakan jika tidak diluangkan? Apa kabar impian menyematkan mahkota kemuliaan kepada kedua orang tua? Bagaimanakah menginginkan keluarga yang hidup dalam naungannya jika dirimu masih seperti ini?

Untuk target terdekat yang nampak di depan mata, masih butuh banyak perjuangan untuk menyelesaikannya. Menata kembali niat, menyusun kembali semangat. Berulang kali mengingatkan diri sendiri untuk kembali menyentuh dan menyelesaikan. Semoga ketika mei datang atau setidaknya sebelum mei beranjak meninggalkan semua telah selesai. Ditutup dengan hasil yang baik. Sehingga Ramadhan yang akan datang tidak perlu direcoki dengan tugas akhir.

 

Marhaban yaa Ramadhan.
Allah,,, ampunilah jika sampai saat ini belum maksimal persiapan untuk menyambutnya

Pulang

Hari ini aku merasa kembali ke rumah. Setalah sekian lama melanglang buana, berkelana, berpetualang. Meninggalkan kebiasaan yang sempat terpelihara di awal perkuliahan. Terjun lansung ke masyarakat. Membaur, berperan serta dan benar-benar mengurusi segala macam urusan di kampung. Amimbarroh, TPA, Wiyoro Kidul. Dan aku dibuat takjub dengan kerja sama dan gotong royong masyarakat. Bukan karena belum pernah melihat sebelumnya tapi karena baru kali ini benar-benar memperhatikan.

Setelah subuh tepat, pengumuman dari pengeras suara masjid sudah terdengar yang menginfokan kepada seluruh panitia dan muda-mudi yang bertugas untuk segera menuju masjid. Mempersiapkan tempat dan semua bahan yang dibutuhkan untuk jalannya acara jalan sehat dalam rangka menyambut datangnya Ramadhan. Dimulai dengan mempersiapkan snack lebih dari 500 bungkus, menata meja untuk menyusun door prize, juga menata gelas dan air meneral untuk minum peserta acara.

Waktu yang dihabiskan untuk menyelesaikan bungkusan snack tidak lebih dari 1.5 jam. Bahkan untuk menata meja tidak kurang dari 30 menit semua sudah tertata rapi. Rasanya seolah baru menoleh sekejap dan semua sudah tertata ketika menoleh untuk kedua kalinya. Peserta tidak ketinggalan juga bersemangat untuk datang. Tiga puluh menit dari pembukaan masyarakat sudah mulai berdatangan memenuhi jalanan sekitar masjid. Partisipasi dan antusias masyarakat dalam mengikuti acara ini rasanya benar-benar membuat hati bungah dan bahagia.

Baru kali ini dalam dua puluh dua tahun kehidupanku aku berberan aktif dan berpartisipasi sampai akhir acara termasuk membereskan lokasi menjadi sedia kala. Rasanya menyenangkan membaur dan bekerja sama dengan teman-teman yang tinggal di kampung yang sama. Aku bahkan ikut dalam prosesi pembagian door prize. Mengambil kupon undian, merobek kupon yang sudah terbaca dan memberikan hadiah pada pemenang. Melihat senyum dan kebahagian di wajah orang-orang rasanya tidak ternilai harganya.

Aku bersyukur Allah masih memberiku kesempatan untuk merasakan kenikmatan ini. Semoga ini hanyalah awalan untuk rangkaian yang semakin banyak di belakang hari ini.

Rencana-Nya

Tidak ada yang salah dari memiliki perencanaan dan berusaha merealisasikannya bukan? Tapi nyatanya kita memang tidak pernah tahu mana yang terbaik. Adakalanya hal yang menurut kita tidak menyenangkan justru baik bagi kita. Atau bahkan sebaliknya hal yang tidak menyenangkan justru sebenarnya yang lebih kita butuhkan. Usaha maksimal bahkan sampai mengawal pada prosesnya tidak akan menjamin suatu keberhasilan. Karena nyatanya semua mungkin berubah bahkan pada detik-detik terakhir yang menentukan.

Teguran langsung dari-Nya. Pada setiap perilaku sombong yang terlakoni. Terlalu percaya diri bahwa semua akan berjalan seperti skenario. Lalu Allah menghendaki jika jalan cerita milik-Nya yang dimainkan. Sekejap kekecewaan memang sempat terbesit. Selanjutnya senyum menggantikan dan mencoba menggubur dalam semua rasa lain selain kepercayaan mutlak akan rencana terbaik dari-Nya. Skenario langit sedang digulirkan. Entah seperti apa penghujungnya.

Mungkin baru satu sisi yang kita perhatikan sehingga menimbulkan praduga dan prasangka atas hal yang tidak diinginkan. Sewajarnyalah jika saat itu keimanan bermain. Menuntut pembuktian yang mewujud dalam tindakan. Nyatanya ketenangan hati memang berbanding lurus dengan keimanan. Cukuplah apa yang terjadi dan perasaan yang menelusup dalam sanubari menjadi catatan perbaikan di kemudian hari.

Masih cukup jelas dalam ingatan detik ketika salah satu impian buyar. Atau mungkin akan lebih tepat jika disebut dengan ditangguhkan. Dia lebih tahu kapasitas melebihi semua orang yang berhak menilai sekalipun. Dan itu lah yang terjadi. Lalu apa hakku untuk kecewa dan marah? Bukankah senyuman lebih baik untuk menggantikan semua ekspresi? 🙂

Tak ada lagi yang dapat kuusahakan saat ini selain do’a tulus mengharap yang terbaik. Konfigurasi maksimal yang segera terbentuk. Dari penggerak-penggerak perubahan yang akan menentukan arah menjadi lebih baik. Karena sejatinya rencana terbaik adalah rencana-Nya. Karena sebaik-baik perencana adalah Dia Yang Mengetahui segalanya.

Catatan 10 November 2014

 

Hafalan

-Suatu sore di Mushola Geodesi-

Sembari menunggu iqomah mengambil Al Qur’an di rak dan membukanya. Tiba-tiba ada suara dan terjadilah sebuah perbincangan singkat menjelang sholat.

Dosen (D): Sudah hafal berapa juz?

Mahasiswa (M) :  *menatap bingung mencari sumber suara kemudian nyengir bingung menjawab* Yang udah pernah dihafal sama yang masih hafal beda Pak

D : Juz 30 sudah hafal?

M : Mmm sudah Pak

D : Bagus,,,bagus,, Juz 29?

M : Sudah Pak *jawab sambil meringis*

D : Juz 28?

M : Iya Pak *semakin nggak jelas mukanya*

D : Juz 27?

M : Hafalannya terus ke depan Pak, ke Juz 1. Tapi udah lama banget nggak ngulang ini Pak *sambil ketawa miris*

D : Ya nggak papa kan tinggal ngulang lebih mudah.

M : *nelen ludah* Yang lebih susah jaga hafalannya ketimbang ngehafalnya Pak

Rasanya dalem banget. Berasa dapet tamparan keras. Ini yang nanya dosen gitu loh. Dan dari sekian banyak pertanyaan yang mungkin ditanyakan kenapa harus hafalan yang ditanyain coba? Diabsenin juznya satu per satu pula. Untung nggak ditanyain setiap suratnya. Mana nggak mungkin bohong kan? Cuma bisa nelen ludah, ngelus dada terus ngingetin diri sendiri lagi. Kayanya kalo gini ceritanya harus bener-bener ngulang hafalan. Allah mengingatkan dan menjaga dengan cara-Nya. Mengirimkan banyak teguran lewat orang-orang di sekitar. Lewat amanah yang harus diselesaikan. Dan lewat banyak hal lain yang entah disadari atau tidak merubah kita.

Maka siapalah yang menampik bahwa Dia adalah sebaik-baik penjaga?

 

 

 

Renungan Akhir Tahun

Tidak banyak waktu yang tersisa di penghujung 2014 ini. Bilangan angka yang terlewati dalam hidupa bahkan telah berubah 23 hari yang lalu. Melirik sekilas kertas yang tertempel di dinding sejak awal tahun lalu, dan sejenak terdiam. Apa saja yang sudah terlewat hampir setahun ini? Rasanya tidak banyak yang berubah. Atau mungkin banyak perubahan kecil yang tanpa sadar membentuk diriku saat ini.

Terlalu banyak kejadian yang tidak pernah terbayangkan sekalipun yang terjadi yang harus kulewati. Menyusun kembali rencana kehidupan yang telah bertahun dibuat yang kemudian harus berubah dalam sekejap. Belurang kali memantapkan hati untuk mengambil keputusan yang bahkan ujungnya masih buram. Percayalah, menyelesaikan program pasca sarjana pada tahun 2016 tidak pernah masuk dalam rencana hidupku. Allah menempaku dengan begitu banyak kejadian yang selalu memuatku terpana. Sungguh aku memang menulis lakon hidup yang kuinginkan namun pada akhirnya memang skenario-Nya lah yang harus kujalani. Membuat perbaikan di sana-sini, menulis ulang cerita yang harus dilakoni menyesuaikan jalan cerita-Nya.

Ini langkahku, walaupun payah bukan alasan menyerah. Ini langkahku, sedikit usaha sebagai penawaran sebagai pengiring pinta pada-Nya untuk memberi kesempatan menjalani kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Satu impianku, di dekap kematian dalam dekapan keridhoan-Nya. Menjalani hidup yang mulia dan dikaruniai kematian yang syahid. Bukankah ujung dari setiap yang bernyawa adalah kematian?

Welcome December :)

Menuliskan ulang rencana dan targetan

target desember

target desember

Target desember :

  • Muroja’ah
  • Tambah hafalan àAl Baqoroh selesai +juz 27
  • Proposal skripsi
  • Renstra
  • Purna amanah dengan baik

Cukup lah itu yang bakal di-evalusi akhir bulan nanti. Target agak gila sebenarnya tapi apa salahnya buat target tinggi? Hanya berbagi mimpi. Siapa tahu ada yang mendoakan dan diijabah 😉

Sisa mimpi dan target untuk bulan ini dituliskan di tempat lain. Yang manapun semoga tercapai semua. Dan 30 hari lagi evalusi seluruh mimpi pada tahun ini. Hmm,, sepertinya akan cukup banyak yang dituliskan kembali pada tahun depan karena belum terealisasi karena satu dan lain hal.