Hikmah Dibalik Masalah

Kali ini aku ingin menceritakan pengalamanku seminggu lalu tepatnya pada tanggal 1 kemarin. Mungkin bukan cerita yang seru atau bahkan spektakuler namun bagiku penuh makna -agak lebay-. Kejadian ini terjadi dalam perjalanan pulang dari acara gathering IAIC Joglosemar (Jogja, Solo, dan Semarang) -bener g ya kepanjangannya itu?-. Jadi, setelah rangkaian acara yang menyenangkan di sela-sela UASku -yang membuatku tidak sanggup belajar untuk hari berikutnya- itu berakhir kami pulang dengan motor. Iring-iringan motor pun mulai bergerak meninggalkan Pantai Parangtritis yang menjadi lokasi gathering kali ini. Karena kakak-kakaknya sudah pulang terlebih dulu, maka iring-iringan ini hanya berisi anak-anak AXIVIC.

Pada awalnya aku termasuk barisan depan dari iring-iringan motor tersebut. Kemudian, aku berhenti sejenak untuk memperbaiki posisi tasku.Setelah itu posisiku berubah menjadi dibelakang. Nomor dua dari belakang tepatnya. Setelah sejenak berjalan meninggalkan pantai, tiba-tiba pada saat melintasi tikungan aku merasakan keanehan pada motorku. tiba-tiba stang motorku terasa berat dan sulit untuk dikendalikan. Aku memperlambat laju motorku. Dan tentu saja itu mengakibatkan aku berada pada urutan terakhir dari iring-iringan tersebut.

Awalnya aku berfikir tas yang aku letakkan di depan mengganggu stang sehingga susah dikendalikan. Tetapi setelah diperhatikan dan posisi tas agak dirubah pun stang masih tetap sulit untuk dikendalikan. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti dan memeriksa apa yang terjadi. Dan. -taraaaaa- ban depan motorku bocor ternyata. 😦 Perkiraanku tadi benar. Jika bukan karena posisi tas yang mengganggu berarti ban motornya yang bermasalah. Ternyata kemungkinan kedualah yang terjadi.

Dari mulai awal kejadian ini aku benar-benar merasa semuanya Alloh yang mengatur. Mungkin, jika dilihat dari sisi ban motorku yang bocor perjalananku menjadi tidak menyenangkan. Ya, itu benar. Aku ditinggal oleh rombongangan -karena tidak ada yang sadar- kecuali temanku yang sedang berhenti karena entah karena alasan apa. Ban motor bocor yang berarti keluar uang untuk membayar biaya tambal ban plus bonus menuntun motor ke tempat tambal ban terdekat. Satu lagi, jadi terlambat dari janjiku untuk menemui salah seorang temanku.

Aku, percaya memang semuanya Alloh yang mengatur. Dan aku merasakan benar hal itu. Pada saat itu aku tidak sendirian tapi bersama seorang temanku sehingga ada teman yang bisa diajak berbincang dan membuatku tidak sempat mengeluh. Selain itu, dia bahkan dengan sigapnya segera mencari tempat tambal ban terdekat. Alhamdulillah tempat tambal ban itu tidak terlampau jauh dari tempat aku berhenti dan mulai menuntun motorku. Satu lagi hal yang kusyukuri adalah keberadaan 2 temanku yang lain yang kemudian bersedia meenggantikanku menuntun motor :D. Aku bertukar motor dengannya. Dia menuntun motorku dan aku membawa motornya -yang baik-baik saja tentunya-.


Hal lain yang seolah “kebetulan” -karena pasti semuanya telah diatur Alloh- adalah waktu zhuhur yang tiba pada saat sedang menambal ban itu. Andaikata aku tetap bersama rombongan tadi mungkin aku tidak akan melaksanakan sholat zhuhur pada awal waktu. Dan ini menjadi hal lain yang aku bersyukur karenanya. Selain itu, karena sholat zhuhur ini pula aku menyadari keberadaan dan posisi pastiku serta jalan mana yang paling cepat untuk kembali ke Jogja. Sebelumnya aku buta arah dan hanya mengikuti rombongan sehingga tidak tahu pasti jalan yang diambil karena jarang melewati jalan tersebut. 


Setelah sholat dan motor selesai ditambal, kami melanjutkan perjalanana dengan rute yang berbeda dengan rombongan pertama tadi. Mereka mengambil jalan memutar lewat Pantai Depok sedang kami memilih untuk kembali ke jalan utama masuk ke Pantai Parangtritis.Dalam perjalanan pulang ini sempat terlintas dalam pikiranku, mungkin memang sudah seharusnya ban motorku bocor karena dengan begitu aku bisa sholat zhuhur tepat waktu dan sampai di Jogja lebih cepat daripada jika aku harus berjalan memutar lewat Pantai Depok. 


Tidak berhenti sampai di sini aku merasakan kuasaNya dan meyakinkanku bahwa semua ini memang karenaNya dan sudah diatur. Aku tidak jadi terlambat menemui temanku tadi. Walaupun sebelumnya aku sudah mengirimkan pesan yang menginformasikan keadaanku dan permohonan maaf karena aku terlambat datang. Tetapi, ternyata Alloh berkehendak lain sehingga beliau yang harus aku temui itu tidak harus menanti lama karena keterlambatanku.


Kunci motor beliau tiba-tiba hilang dan tidak ketemu-ketemu ketika dicari. Akhirnya beliau pergi dengan menggunakan sepeda motor milik temannya. Karena kuncinya yang hilang itulah beliau juga terlambat menemuiku. Tapi, karena keterlambatan itulah aku dan dia tiba pada waktu yang hampir bersamaan. Subhanalloh, memang semuanya Alloh yang mengatur 🙂


Kejadian hari itu menjadi salah satu pengalamanku yang benar-benar menyadarkanku pada kuasaNya. Dia tidak tidur dan memelihara ciptaanNya. Mengatur segala sesuatu di alam ini. Pun kejadian buruk -menurut kita- juga Alloh yang mengatur. Dan dari setiap kejadian pasti ada hikmah dibaliknya. Belum tentu hal yang buruk menurut kita buruk di hadapanNya begitu pula sebaliknya hal yang menurut kita baik belum tentu yang terbaik dalam pandanganNya. Jadi, jalani saja apa yang terjadi, berusaha untuk tetap tersenyum karena pasti ada hikmah dibalik setiap kejadian 🙂



IAIC Joglosemar 

terimakasi Irma, Adib, dan Fuzta yang menemani perjalanan kembali ke Jogja. 
terimakasih AXIVIC dan IAIC Joglosemar yang menyeemarakkan hariku yang suram di tengah UAS. Semoga hasilnya se-semarak hari kemarin 🙂      

 

Advertisements