Kado

Tidak ada kotak yang terbungkus kertas kado
Tidak pula kue berhias dan lagu
Atau kejutan gempita membahana
Hanya ada untaian panjang do’a dalam sunyi dan sepi
Untukmu yang tak akan pernah terganti

Peluh, darah, dan air mata bukti pengorbanan
Tidak akan sebanding dengan dunia
Kenikmatan kekal yang pantas menjadi harga
Sembah takzimku tak akan pernah pernah cukup membayarnya
Kasih dan do’a tulusmu sepanjang perjalanan
Tanpa pinta tanda jasa
Tanpa harap kembali apapun
Tulus ikhlas lepas diberikan

#day5
0511. Barakallah fii umrik. Tak ada yang lebih kuharapkan untukmu selain anugerah surga sebagai ganjaran seluruh jerih payah dan pengorbananmu. Satu hadiah yang ingin kusematkan padamu, sebuah mahkota kemulian dari sisiNya. Semoga Allah beri umur dan kesempatan menyelesaikannya. Aku sayang sekali padamu. Maaf karena tidak mengucapkan apa-apa langsung dihadapanmu. 

Tulisan ini aku dedikasikan untuk dia yang tidak akan tergantikan. Surgaku ada di telapak kakinya.

Episode yang Tidak Mudah

Kurasa sekarang aku tahu rasanya tidak mudah untuk menyelesaikan kuliah. Sepertinya aku mulai mengerti mengapa ada yang tidak kunjung selesai padahal ‘hanya’ tinggal menyelesaikan tugas akhir. Mungkin salah satu alasannya seperti yang aku alami saat ini. Ada saja hal yang muncul dan seolah menjadi pembenaran alasan mengapa belum juga selesai. Walaupun aku sendiri tidak cukup mengerti penyebab tidak terangkainya kalimat demi kalimat yang seharusnya menyusun kesatuan tugas akhir. Mungkin memang ada alasan-Nya sehingga ada yang ditangguhkan untuk segera menyelesaikan.

Aku baru merasakan saat ini mengingat setahun lalu kendatipun melewati hal yang sama tapi tidak mendapati kesulitan untuk menulis. Mengejar semuanya untuk selesai dalam hitungan hari bahkan Allah berikan walaupun dengan penuh perjuangan. Lalu ketika dihadapkan dengan kondisi yang sama dengan tantangan yang berbeda rasa butuh lebih banyak tasbih untuk menguatkan diri. Apalagi yang dibutuhkan untuk bisa menulis ketika sudah memahami apa yang kamu kerjakan dan tahu apa yang harus ditulis tetapi rangkaian kalimat tidak juga tersusun? Mungkin itu memang isyarat untuk semakin merunduk, meminta dan meminjam kekuatan-Nya karena semua dalam genggaman-Nya bukan?

Ketika waktu yang dimiliki semakin sempit, kekhawatiran semakin memuncak, sesak semakin menjadi apalagi yang lebih dibutuhkan selain pertolongan-Nya. Ketika seolah tidak ada lagi daya untuk bertahan menyelesaikan siapa lagi yang bisa dijadikan sandaran jika bukan Dia. Mungkin ini saatnya mengimplementasikan teori yang dipelajari bertahun-tahun agar mewujud menjadi pengalaman yang dapat diambil hikmah. Tentang kesabaran, kepercayaan, tawakal, usaha dan do’a yang tak boleh putus. Bisa jadi ini menjadi ladang ujian pembuktian keimanan. Akankah bertambah atau justru meluruh bersama kefuturan.

Jika Allah senang mendengar pinta dari hamba-Nya apa yang menghalangi untuk terus berdo’a. Jika janji-Nya adalah kepastian tidak ada alasan untuk berputus asa pada rahmat-Nya bukan? Setiap pinta pasti dijawab. Mungkin memang dalam bentuk lain selain yang dipinta tetapi pasti itu lebih sesuai dengan kebutuhan. Percaya saja Dia lebih tahu apa yang terbaik. Dan ketika kehendak-Nya berjalan bahkan semesta tak akan kuasa menolak.

Teruslah bertahan tanpa putus harapan. Tetaplah tersenyum ketika kehidupan terlihat suram. Teruslah berjalan dengan sepenuh keyakinan. Ada Dia yang menggenggam segala urusan. Dan percayalah semua akan berlalu pada saatnya. Bersama lembaran baru yang datang menggantikan episode yang lama. Ada lakon lain yang masih menanti untuk dimainkan. Maka teruslah berjalan dan bertahan sampai ketentuan itu datang.

Bersama dekapan do’a yang dikirimkan dari penjuru muka bumi, semoga Allah mudahkan segala urusan dan berikan yang terbaik. Terbaik dalam kaca mata dan parameter-Nya.

Sudut kamar atas pada penghujung malam yang sunyi,
2.24 WIB

 

Asa

WhatsApp-Image-20160525

jadwal kegiatan wisuda

Manusia wajib berusaha, hasil merupakan hak prerogatif Allah. Semoga Allah beri yang terbaik.
Berharap dan berusaha menyelesaikan semua untuk wisuda Juli. Walaupun sampai saat ini untuk selesai masih berada dalam bayang. Allah yang Paling Berkuasa atas segala sesuatu.

 

Percaya

2014-01-31-f83e8c8da77617464e0e49574bae13911

Keyakinan memang sejalan dengan keimanan. Selaksa kurva linear yang menggambarkan hubungan yang sejalan. Semakin tinggi tingkat keimanan maka semakin tinggi pula keyakinan yang dimiliki. Tapi nyatanya keimanan yang naik dan turun adalah keniscayaan. Dan ketika keimanan tidak berada pada titik yang baik maka wajarlah jika kemudian tidak mudah pula memiliki kepercayaan mutlak padaNya.

Yang perlu dilakukan hanya satu, lakukan yang terbaik. Hanya itu. Selebihnya serahkan penilaian pada yang berhak. Biarkan skenarioNya berjalan sebagaimana yang Dia kehendaki. Percayakan saja semua pada Yang Maha Berkehendak. Setelah usaha maksimal yang diiringi do’a paling tulus bukankah yang kita hanya butuh percaya?

Sebaik dan serapi apapun rencana yang kita susun, ketika dihadapkan pada skenario milikNya maka tak ada nilainya. Jadi apa lagi yang perlu diragukan? Bukankah ketika Allah bersamamu maka itu sudah lebih dari cukup?

Ya Allah, aku rela atas segala ketentuanMu atas diriku.
Kuserahkan segala urusanku padaMu.
Aku datang padaMu mengharap belas kasihan dan rahmat dariMu.
Karena Engkaulah sebaik-baik pembuat rencana.
Karena Engkaulah Yang Maha Berkuasa.

image source : http://www.huffingtonpost.com/tamara-star/what-do-you-believe_b_4699084.html

Wisuda Agustus

2

+ Mau wisuda kapan?

– Agustus

+ Oh. Emang udah slese semuanya?

– Belum

+ Terus kamu punya apa PD banget bilang mau wisuda Agustus?

– Punya Allah

Tentang kepercayaan, keimanan, usaha tiada henti dan do’a tanpa putus. Apa yang tidak mungkin jika Dia telah berkehendak? Iya kan?
Yang aku butuhkan kini hanya usaha dan pengorbanan yang lebih banyak dari biasanya, pinta tiada henti pada-Nya serta do’a setulus hati darimu…  

Rencana-Nya

Tidak ada yang salah dari memiliki perencanaan dan berusaha merealisasikannya bukan? Tapi nyatanya kita memang tidak pernah tahu mana yang terbaik. Adakalanya hal yang menurut kita tidak menyenangkan justru baik bagi kita. Atau bahkan sebaliknya hal yang tidak menyenangkan justru sebenarnya yang lebih kita butuhkan. Usaha maksimal bahkan sampai mengawal pada prosesnya tidak akan menjamin suatu keberhasilan. Karena nyatanya semua mungkin berubah bahkan pada detik-detik terakhir yang menentukan.

Teguran langsung dari-Nya. Pada setiap perilaku sombong yang terlakoni. Terlalu percaya diri bahwa semua akan berjalan seperti skenario. Lalu Allah menghendaki jika jalan cerita milik-Nya yang dimainkan. Sekejap kekecewaan memang sempat terbesit. Selanjutnya senyum menggantikan dan mencoba menggubur dalam semua rasa lain selain kepercayaan mutlak akan rencana terbaik dari-Nya. Skenario langit sedang digulirkan. Entah seperti apa penghujungnya.

Mungkin baru satu sisi yang kita perhatikan sehingga menimbulkan praduga dan prasangka atas hal yang tidak diinginkan. Sewajarnyalah jika saat itu keimanan bermain. Menuntut pembuktian yang mewujud dalam tindakan. Nyatanya ketenangan hati memang berbanding lurus dengan keimanan. Cukuplah apa yang terjadi dan perasaan yang menelusup dalam sanubari menjadi catatan perbaikan di kemudian hari.

Masih cukup jelas dalam ingatan detik ketika salah satu impian buyar. Atau mungkin akan lebih tepat jika disebut dengan ditangguhkan. Dia lebih tahu kapasitas melebihi semua orang yang berhak menilai sekalipun. Dan itu lah yang terjadi. Lalu apa hakku untuk kecewa dan marah? Bukankah senyuman lebih baik untuk menggantikan semua ekspresi? 🙂

Tak ada lagi yang dapat kuusahakan saat ini selain do’a tulus mengharap yang terbaik. Konfigurasi maksimal yang segera terbentuk. Dari penggerak-penggerak perubahan yang akan menentukan arah menjadi lebih baik. Karena sejatinya rencana terbaik adalah rencana-Nya. Karena sebaik-baik perencana adalah Dia Yang Mengetahui segalanya.

Catatan 10 November 2014

 

Renungan Akhir Tahun

Tidak banyak waktu yang tersisa di penghujung 2014 ini. Bilangan angka yang terlewati dalam hidupa bahkan telah berubah 23 hari yang lalu. Melirik sekilas kertas yang tertempel di dinding sejak awal tahun lalu, dan sejenak terdiam. Apa saja yang sudah terlewat hampir setahun ini? Rasanya tidak banyak yang berubah. Atau mungkin banyak perubahan kecil yang tanpa sadar membentuk diriku saat ini.

Terlalu banyak kejadian yang tidak pernah terbayangkan sekalipun yang terjadi yang harus kulewati. Menyusun kembali rencana kehidupan yang telah bertahun dibuat yang kemudian harus berubah dalam sekejap. Belurang kali memantapkan hati untuk mengambil keputusan yang bahkan ujungnya masih buram. Percayalah, menyelesaikan program pasca sarjana pada tahun 2016 tidak pernah masuk dalam rencana hidupku. Allah menempaku dengan begitu banyak kejadian yang selalu memuatku terpana. Sungguh aku memang menulis lakon hidup yang kuinginkan namun pada akhirnya memang skenario-Nya lah yang harus kujalani. Membuat perbaikan di sana-sini, menulis ulang cerita yang harus dilakoni menyesuaikan jalan cerita-Nya.

Ini langkahku, walaupun payah bukan alasan menyerah. Ini langkahku, sedikit usaha sebagai penawaran sebagai pengiring pinta pada-Nya untuk memberi kesempatan menjalani kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Satu impianku, di dekap kematian dalam dekapan keridhoan-Nya. Menjalani hidup yang mulia dan dikaruniai kematian yang syahid. Bukankah ujung dari setiap yang bernyawa adalah kematian?

Daftar Mimpi untuk Tahun 2014

Tidak ada yang melarang orang bermimpi. Seaneh apapun dan semustahil apapun juga sebanyak apapun. Mumpung mimpi masih gratis ya jadi tulis aja sebanyak yang dimau.

Mumpung masih awal Januari, aku memutuskan untuk menuliskan hal-hal yang ingin aku capai di tahun ini di sini. Kenapa akhirnya ditulis? Ya biar nggak hilang dan ada dokumentasinya. Selain itu, biar tahun depan bisa dicoretin satu per satu karena sudah terpenuhi 😀 *amiin. Kalau alasan dituangin ke blog, ya suka-suka aku lah orang ini rumahku kok :3 
Siapa tahu yang pada berkunjung ke rumahku mengaminkan dan Alloh mengabulkan. Toh kita nggak pernah tahu do’a siapa yg bakal diijabahi. Asumsikan saja semakin banyak yang mendo’akan maka semakin banyak kemungkinan terkabul.
And here they are my dreams in this year:

1.       Hafal 30 juz
2.       Shalat Dhuha 5x seminggu :3
3.       Shalat tahujjud 5x seminggu :3
4.       Baca 50 buku
5.       Postingan di blog mencapai 300 dan viewer mencapai 50.000
6.       Bisa berteman baik dengan Novi Ahimsa Rosikha >.<
7.       Punya 3 kelompok binaan
8.       Punya penghasilan sendiri
9.       Punya smartphone atau tab
10.   Punya laptop sendiri
11.   Bisa nyetir mobil dengan lancar
12.   Punya sim A
13.   Naik Gunung Merapi dan Merbabu
14.   Naiik gunung bareng sekeluarga
15.   Pergi ke Jepang
16.   Nulis buku dan dicetak
17.   Sementer 7 jumlah mata kuliah yang harus diambil terpenuhi
18.   IPK 7 semester cumlaude
19.   Hafal hadits arba’in
20.   Tambah koleksi buku minimal 10 buku
21.   Pergi ke Padang dan Bali
22.   Bisa curhat ke umi sama abi
23.   Merealisasikan kado yang mau dibuat untuk umi
24.   Prokerku di BEM terlaksana semua
25.   Bisa jadi tempat cerita buat adek-adek
26.   Pinter masak dan bikin kue
27.   Pinter ngerajut
28.   Bisa menjahit
29.   Gabung komunitas penulis
30.   Punya temen dari luar negeri
31.   Ikutan kegiatan yang lingkupnya nasional dan dapet link/jaringan
32.   Kenal minimal 50% kader BEM KMFT
33.   Kenal minimal 50% angkatan 2012, 2013 dan 2014 Teknik Geodesi
34.   Kenal dosen dan pegawai di Teknik Geodesi
35.   Kenal pak satpam, yang jaga karcis, dan yang bertugas jaga kebersihan
36.   Kenal ketua MPM, KM/HM dan BSO
37.   Ngasih roti ke bapak-bapak yang jaga karcis waktu aku ulang tahun
38.   Ikut proyek dosen
39.   Jadi asisten dosen
40.   Aktif jadi guru TPA lagi
41.   Hafal semua anak-anak TPA
42.   Naik pesawat 😀
43.   Dan akan terus ditambah serta diperbaharui lagi :3

Semua yang tertulis di atas tadi memang hanya mimpi. Sekali lagi, mimpi itu gratis kok jadi ya suka-suka mau bermimpi sebanyak apa dan seperti apa 😀

Terima kasih untuk yang sudah berkunjung dan mendo’akan. Semoga mimpi kalian semua juga dikabulkan :”

Pojok Ruang Imajinasi,
Jogja, 12 Januari 2013
2.36