Moment to Remember

 

August 20th, 2015

Fight for the next graduation
See you at July or August.
hopefully everything finished before June

Advertisements

Jalan Keluar

Segala usaha rasanya sudah dilakukan. Tetap saja hasil yang diinginkan tidak kunjung muncul. Masih saja menunjukkan kondisi yang sama dengan hari sebelumnya. Bahkan ketika waktu yang ditentukan untuk mengumpulkan hasil yang diperoleh tetap saja apa yang diharapkan belum tercapai juga. Seolah tidak ada progress, diam di tempat tanpa kemajuan. Tapi sebenarnya bukan karena tidak melakukan sesuatu hanya saja belum mendapat yang diharapkan. Ini tentang proses pengolahan data yang belum berhasil juga bahkan setelah lewat jam perjanjian untuk konsultasi atau laporan mungkin lebih tepatnya.

Berangkat saja. Sampaikan kondisi yang dialami. Itu yang kutekatkan kemudian ketika memutuskan tetap menghadap apapun keadaannya. Dan bukan salah beliau jika kemudian beliau sudah tidak ada di tempat. Memang Aku yang melampaui jam perjanjian cukup lama. Bersama rekan seperjuangan akhirnya kukeluarkan kembali persenjataan -baca:laptop- menyelesaiakan pengolahan data tadi. Masih berkutat pada hal yang sama dan masih belum bertemu cahaya terang pertanda keberhasilan.

Tidak disangka-sangka solusi itu justru diperoleh dari dia yang sebenarnya tidak benar-benar paham apa yang kulakuan. Tapi justru karena idenya-lah aku bisa menemukan setitik cahaya terang jalan keluar proses penyelesaian pengolahan data yang kulakukan. Kendatipun solusi ini diperoleh setelah menghadap tapi setidaknya harapan agar malam harinya sudah mulai dapat melakukan penulisan dari hasil yang diperoleh cukup besar. Semoga besok SEMUA bisa dirangkai menjadi satu dan SELESAI.

Terimakasih kamu yang sudah membantuku. Semoga kita bisa wisuda bersama ya 😀

Countdown

countdown-17

Tujuh belas hari menuju Ramadhan. Dan tiga hari menuju tanggal empat. Entah sejak kapan tanggal empat Juni 2015 menjadi tanggal yang begitu penting dalam hidupku. Bisa jadi mungkin bahkan menjadi turning point. Entahlah. Akupun tak tahu. Atau setidaknya belum tahu karena memang waktu yang diminta Tuhan membukakan maksud dari lakon ini belum menunjukkan pesan tersembunyi di baliknya. Ya, hikmah kehidupan yang ada pada setiap penggal cerita kehidupan itu masih misteri.

Detik yang terus berjalan, kadang berlalu tanpa sempat menyapa. Membiarkan diriku yang terpekur pada kenyataan. Terdiam tak mengerti apa yang harus dilakukan. Bukan, bukan tidak mengerti sepertinya. Tapi memilih untuk tidak mau tahu. Dengan sejuta alasan pembenaran yang sejatinya semuanya akan tersingkirkan ketika melihat ujung akhir dari segala jerih payah ini, Karena memang yag perlu dilakukan hanya usaha. Benar, usaha semampu usaha yang bisa dilakukan. Kalaupun ada yang harus dikorbankan wajar saja. Sesuatu yang luar biasa memang tak pernah terlahir dari hal yang biasa kan? Untuk awalan terkecil dan paling sederhana sekalipun dari suatu keberhasilan tetap butuh perjuangan dalam perjalanan pencapaiannya.

Membicarakan waktu, membawa waktu dalam perencanaan kehidupan, sejatinya juga menyapa kematian. Bukankah ajal memang mengintai dengan setia. Menanti waktu yang ‘tepat’ untuk kemudian menyapa dan mengajak pergi. Disamping hitungan mundur menuju Ramadhan, menuju empat Juni yang sempat menjadi bayang-bayang mimpi buruk ada hitungan lain yang juga berjalan yang tak disadari. Ya, hitungan menuju pertemuan dengan ajal.

Jika dengn ajal yang hitungan mundurnya bahkan tidak diketahui bisa dengan bodohnya bersantai, mengapa perlu segala mual dan ketakutan berlebihan menghadapi sesuatu yang pasti berlalu. Empat Juni 2015 yang tinggal tiga hari lagi. Deadline pengumpulan draft skripsi. Baiklah, tiga hari ini kurasa akan menjadi hari yang berbeda. Karena akan dijalani dengan lebih produktif, semoga. Toh yang perlu kulakukan hanya berusaha kah? Dengan do’a tanpa putus pula tentunya. Penentu hasil akhir tidak mutlak dari hasil jerih payahku. Ada komponen do’a dan bisa jadi faktor ‘X’ yang hanya dapat dilakukan olehNya. Dan kurasa untuk dapat memperoleh semuanya Aku harus lebih memperbaiki diri. MerayuNya dengan segenap persembahan terbaik, do’a dan permohonan ampunan di penghujung hari atas kesalahan yang dengan bodohnya  terulang, lagi dan lagi.

Sampai jumpa pada hari pengumpulan draft, sampai jumpa pada awal Ramadhan, dan sampai jumpa pada hari yang entah kapan. Semoga ketika datang hari itu aku ada pada kondisi terbaik untuk sebuah pertemuan.

Percaya

2014-01-31-f83e8c8da77617464e0e49574bae13911

Keyakinan memang sejalan dengan keimanan. Selaksa kurva linear yang menggambarkan hubungan yang sejalan. Semakin tinggi tingkat keimanan maka semakin tinggi pula keyakinan yang dimiliki. Tapi nyatanya keimanan yang naik dan turun adalah keniscayaan. Dan ketika keimanan tidak berada pada titik yang baik maka wajarlah jika kemudian tidak mudah pula memiliki kepercayaan mutlak padaNya.

Yang perlu dilakukan hanya satu, lakukan yang terbaik. Hanya itu. Selebihnya serahkan penilaian pada yang berhak. Biarkan skenarioNya berjalan sebagaimana yang Dia kehendaki. Percayakan saja semua pada Yang Maha Berkehendak. Setelah usaha maksimal yang diiringi do’a paling tulus bukankah yang kita hanya butuh percaya?

Sebaik dan serapi apapun rencana yang kita susun, ketika dihadapkan pada skenario milikNya maka tak ada nilainya. Jadi apa lagi yang perlu diragukan? Bukankah ketika Allah bersamamu maka itu sudah lebih dari cukup?

Ya Allah, aku rela atas segala ketentuanMu atas diriku.
Kuserahkan segala urusanku padaMu.
Aku datang padaMu mengharap belas kasihan dan rahmat dariMu.
Karena Engkaulah sebaik-baik pembuat rencana.
Karena Engkaulah Yang Maha Berkuasa.

image source : http://www.huffingtonpost.com/tamara-star/what-do-you-believe_b_4699084.html

Hafalan

-Suatu sore di Mushola Geodesi-

Sembari menunggu iqomah mengambil Al Qur’an di rak dan membukanya. Tiba-tiba ada suara dan terjadilah sebuah perbincangan singkat menjelang sholat.

Dosen (D): Sudah hafal berapa juz?

Mahasiswa (M) :  *menatap bingung mencari sumber suara kemudian nyengir bingung menjawab* Yang udah pernah dihafal sama yang masih hafal beda Pak

D : Juz 30 sudah hafal?

M : Mmm sudah Pak

D : Bagus,,,bagus,, Juz 29?

M : Sudah Pak *jawab sambil meringis*

D : Juz 28?

M : Iya Pak *semakin nggak jelas mukanya*

D : Juz 27?

M : Hafalannya terus ke depan Pak, ke Juz 1. Tapi udah lama banget nggak ngulang ini Pak *sambil ketawa miris*

D : Ya nggak papa kan tinggal ngulang lebih mudah.

M : *nelen ludah* Yang lebih susah jaga hafalannya ketimbang ngehafalnya Pak

Rasanya dalem banget. Berasa dapet tamparan keras. Ini yang nanya dosen gitu loh. Dan dari sekian banyak pertanyaan yang mungkin ditanyakan kenapa harus hafalan yang ditanyain coba? Diabsenin juznya satu per satu pula. Untung nggak ditanyain setiap suratnya. Mana nggak mungkin bohong kan? Cuma bisa nelen ludah, ngelus dada terus ngingetin diri sendiri lagi. Kayanya kalo gini ceritanya harus bener-bener ngulang hafalan. Allah mengingatkan dan menjaga dengan cara-Nya. Mengirimkan banyak teguran lewat orang-orang di sekitar. Lewat amanah yang harus diselesaikan. Dan lewat banyak hal lain yang entah disadari atau tidak merubah kita.

Maka siapalah yang menampik bahwa Dia adalah sebaik-baik penjaga?

 

 

 

Renungan Akhir Tahun

Tidak banyak waktu yang tersisa di penghujung 2014 ini. Bilangan angka yang terlewati dalam hidupa bahkan telah berubah 23 hari yang lalu. Melirik sekilas kertas yang tertempel di dinding sejak awal tahun lalu, dan sejenak terdiam. Apa saja yang sudah terlewat hampir setahun ini? Rasanya tidak banyak yang berubah. Atau mungkin banyak perubahan kecil yang tanpa sadar membentuk diriku saat ini.

Terlalu banyak kejadian yang tidak pernah terbayangkan sekalipun yang terjadi yang harus kulewati. Menyusun kembali rencana kehidupan yang telah bertahun dibuat yang kemudian harus berubah dalam sekejap. Belurang kali memantapkan hati untuk mengambil keputusan yang bahkan ujungnya masih buram. Percayalah, menyelesaikan program pasca sarjana pada tahun 2016 tidak pernah masuk dalam rencana hidupku. Allah menempaku dengan begitu banyak kejadian yang selalu memuatku terpana. Sungguh aku memang menulis lakon hidup yang kuinginkan namun pada akhirnya memang skenario-Nya lah yang harus kujalani. Membuat perbaikan di sana-sini, menulis ulang cerita yang harus dilakoni menyesuaikan jalan cerita-Nya.

Ini langkahku, walaupun payah bukan alasan menyerah. Ini langkahku, sedikit usaha sebagai penawaran sebagai pengiring pinta pada-Nya untuk memberi kesempatan menjalani kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Satu impianku, di dekap kematian dalam dekapan keridhoan-Nya. Menjalani hidup yang mulia dan dikaruniai kematian yang syahid. Bukankah ujung dari setiap yang bernyawa adalah kematian?

Tarawih 17 Raka’at

Ini pengalaman awal ramadhan kemarin yang udah lama pengen  di tulis tapi nggak kesampaian dan baru sekarang ketulis. Yah, ternyata naik motor selama 2 jam buat sampai sana dan langsung balik hanya setelah beberapa jam rasanya lumayan juga ya. Dan percayalah, naik motor malem-malem di gunung dan sepanjang jalannya nggak ada lampu itu tidak semenyenangkan yang dibayangkan *emang siapa yang bilang kalo itu menyenangkan ya? –a* yang seenggaknya dengan pemandangan yang sangat menpesona liat kota dari atas gunung semua kengerian itu terbayar laah :3
Perjalanan ke Gunung Kidul ini sejauh ini adalah perjalanan paling menantang selama aku bisa naik motor. Naik motor selama 2 jam dengan jalan yang seperti di gunung *emang gunung sih namanya aja Gunung Kidul* dan boncengin orang. Waktu berangkat sih enak-enak aja secara masih terang benderang dan bareng-bareng sama yang lain. Pulangnya selain menguji kemampuan bermotor, juga menguji mental dan iman. Jalannya belokannya sama sekali nggak nyantai dan nggak ada lampu masih di tambah naik turun pula. Itu semacam nguji adrenalin juga sih soalnya belokannya nggak keliatan dan rasanya belom selesai belok udah muncul belokan berikutnya. Dan berhubung jalanannya sepi dan minta ditaklukkan semua orang memacu motor dengan kecepatan yang aku nggak bisa ngejar –a jadilah aku tertinggla sendirian di jalanan yang gelap. Tapi kalo disuruh nyoba lagi nggak kapok sih :p
Gunung Kidul yang didatengin ini bukan Gunung Kidul yang aku bayangin. Ini seperti di negeri antah berantah. Nggak ada sinyal dan rasanya jauuuuuh banget padahal masih di Jogja ._.
Semua capek serasa terbayar ngeliat senyumnya adek-adek TPA yang ada di sana dan mengikuti acara dengan antusias. Rasanya selalu menyenangkan tiap kali bisa liat orang lain tersenyum, tertawa, dan bahagia. Yah pokoknya ngeliat orang lain bahagia itu candu :’)
Ngurusin anak kecil itu menyenangkan. Pada akhirnya tetep nggak bisa marah walaupun mereka ngeselin banget 😀 Gimana nggak ngeselin kalo setiap perkataan yang diomong disela atau malah ditinggal cerita sendiri. Dan sialnya suaraku nggka bisa lebih keras dari mereka -.-
Ngeliat mereka semangat jawab pertanyaan waktu cerdas cermat, nulis semua impian mereka dengan antusias dan nempelin di pohon impian, bahagia banget dapet es kelapa muda dan olive buat buka puasa dan ngeliat mereka dengan tertib sholat berjama’ah rasanya bener-bener buat terharu. Masih akan terus ada orang-orang yang punya mimpi dan akan memperbaiki negeri ini. 🙂
Sesaat sebelum buka puasa aku sempet nanya ke mbak-mbak yang biasa ngajar TPA disitu tentang tarawih di mushola tersebut. Dan jawabannya membuat aku bingung dan jadi mikir. Kata mbaknya itu sholat disana biasanya 17 raka’at. Wuaaah 17 raka’at?? Aku taunya 11 raka’at kalo nggak ya 23 raka’at. Ini aku yang emang nggak tau atau emang harusnya nggak ada. Langsung ngerasa masih harus banyak banget belajar lagi, iya belajar tentang banyak hal. Juga membuka kembali memori pelajaran jaman dulu. Rasanya berdosa banget deh pernah belajar tapi trus malah ngeluapai begitu aja. Seenggaknya besok-besok kalo ada yang tanya bisa jawab dengan yakin lah.
Perjalanan ke negeri antah berantah di Gunung Kidul itu bener-bener berkesan buatku. Mengajariku banyak hal *ceilah bahasanya*. Aku ngerasa bahagia dan bersyukur banget ada dan besar di lungkungan yang cukup kondusif buat belajar. Punya keluarga dan teman-teman yang luar biasa baik. Nggak pernah ngerasa susah buat cari air. Makan cukup. Tidur masih di kasur. Kurang apalagi coba? Di sana air bersih ternyata harus beli. Akses ke luar juga nggak semudah di Jogja. Kualitas pendidikan jangan dibandingin sama sekolah di kota. Masih butuh bertahun-tahun lah kalo mau nyusul. Kecuali ada yang mau konsen banget buat mengabdi di sana mengembangin. Dan sayangnya aku ngerasa masih belum bisa apa-apa sekarang. 😦
Rasanya tersentuh sekali ketika mereka memberikan lempeng yang mereka bilang sebagai oleh-oleh kepada kami. Bahkan dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, mereka masih memiliki hati yang begitu lapang untuk member kepada yang lain.
Aku bahagia ada di antara teman-teman yang masih mau meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran bua orang lain. Aku bahagia ada diantara orang-orang yang belajar untuk tidak egois hanya memikirkan diri sendiri kendatipun pusing dengan segala macam tugas kuliah. Aku bahagia, sangat bahagia ketika melepas kami ke Jogja salah seorang perwakilan mereka mendo’akan keselamatan dan kesuksesan kami. Bagaimana mungkin tidak bahagia ketika do’a tersebut diaminkan oleh semua jama’ah yang ada di mushola tersebut. Aku pulang dari sana dengan segenap perasaan bahagia dan membawa banyak sekali pelajaran kehidupan dari mereka 🙂
Perjalanan ke Gunung Kidul dalam acara Geodesi Beramal
2 Ramadhan 1434|10 Juli 2013
Terselip kebanggaan dan kebahagian pada jurusan dan teman-teman tercinta.
GEODESI! SATU HATI!
Dokumentasi
Perjalanan dari parkiran motor ke mushola 
senyum matahari dari hati yang tulus

kami dan mereka (1)

kami dan mereka (2)

Sambutan dari tuan rumah

Sambutan ketua KMTG

Lomba Cerdas Cermat

Games