Waktu Luang

Tiga hari yang lalu sepucuk undangan disampaikan padaku. Bukan undangan spesial sebenarnya. Bahkan mungkin terkesan tidak penting jika orang lain tahu. Bukan undangan acara bahagia orang lain untuk mengumumkan pernikahan atau undangan menghadiri pesta dan semacamnya. Undangan ini adalah undangan dari takmir masjid di dekat rumahku. Yah, untuk seorang yang secara administratif tercatat tinggal di daerah sini akan tetapi raganya lebih banyak melang-lang buana ke belahan bumi yang lain bahkan baru benar-benar kembali empat tahun belakangan tentunya itu menjadi sesuatu yang tidak biasa. Karena emapat tahun belakangan ini pun sepertinya lebih banyak kuhabiskan waktu di luar rumah.

Selembar undangan ukurang A5 yang sebesar buku tulis kecil itu merupakan undangan untuk membahas kegiatan songsong Ramadhan sekaligus rangkaian acara selama bulan suci itu. Awalnya sempat terlintas pikiran yang menyatakan siapa saya sampai turut serta diundang. Bukan tidak senang, justru tersanjung. Bukan tanpa alasan aku merasa seperti itu. Dengan kondisi tidak terlalu banyak mencurahkan waktu untuk mengurusi daerah tempat tinggalku bahkan telah cukup lama melepas kesibukan mengajar TPA yang sempat digeluti di awal masa perkuliahan, mendapat undangan ajakan untuk menghidupkan Ramadhan di daerah rumah sendiri rasanya sangan menyenangkan.

Tidak terbayang sebelumnya juga jika pertemuan itu dihadiri cukup banyak orang sepuh yang menjadi takmir dan beberapa pengurus kampung selain muda-mudinya. Ketua-ketua RT turut serta pada pertemuan itu. Saat itu aku baru benar-benar menyadari seberapa besar usaha masyarakat di kampungku untuk menyemarakkan Ramdhan. Bagaimana setiap RT bahu membahu mengambil bagian untuk mengisi jadwal membari buka puasa di masjid termasuk mengatur pergiliran orang yang bertugas saat buka puasa tersebut nantinya.

Acara songsong Ramadhan yang digagas bukan acara baru. Acara positif yang juga menekankan pada pentingnya kesehatan fisik ini telah berjalan bertahun-tahun. Jalan sehat sebelum bulan Ramdhan. Jalan sehat yang diikuti masyarakat sekampung dengan hadiah dan konsumsi yang disokong dari takmir. Pada acara ini dapat dilihat sinergitas yang cukup baik antara pemuda yang menjadi pelaksana teknis dan para orang tua yang mengarahkan dan menjadi penyokong dana. Bahkan pemuda masjid ini punya nama tersendiri. AMIMBAROH. Angkatan Muda Mudi Masjid Baiturrohmah.

Pertemuan yang diadakan setelah isya’ itu tidak sebentar. Setidaknya dua jam berlalu untuk melakukan pertemuan tersebut. Bahkan aku sampai rumah sudah cukup larut. Pukul 22.30 malam. Tapi tidak masalah karena aku pulang tidak sendirian. Beberapa orang yang searah berjalan bersama. Bahkan ada Pak RT yang ikut dalam rombongan tersebut.

Meluangkan waktu dan memiliki waktu luang. Dua ungkapan dengan makna yang cukup berbeda. Dan meluangkan waktu disaat ada kewajiban lain yang harus diselesaikan ternyata tidak mudah. Di saat deadline skripsi di depan mata kemudian dihadapkan realita bahwa Aku ada dalam kehidupan nyata di tengah masyarakat. Bukan pilihan mudah rasanya untuk kemudian mengabaikan undangan tersebut. Karena nyatanya sku memang tak sanggup mengabaikannya. Kupikir, untuk urusan dunia saja aku berani bersusah payah laluapakah untuk urusan akhirat aku tidak mau meluangkan waktu? 

Bismillah, Fillah, Billah, Lillah.

2 Juni 2015
Saat berusaha meluruskan niat kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s