Countdown

countdown-17

Tujuh belas hari menuju Ramadhan. Dan tiga hari menuju tanggal empat. Entah sejak kapan tanggal empat Juni 2015 menjadi tanggal yang begitu penting dalam hidupku. Bisa jadi mungkin bahkan menjadi turning point. Entahlah. Akupun tak tahu. Atau setidaknya belum tahu karena memang waktu yang diminta Tuhan membukakan maksud dari lakon ini belum menunjukkan pesan tersembunyi di baliknya. Ya, hikmah kehidupan yang ada pada setiap penggal cerita kehidupan itu masih misteri.

Detik yang terus berjalan, kadang berlalu tanpa sempat menyapa. Membiarkan diriku yang terpekur pada kenyataan. Terdiam tak mengerti apa yang harus dilakukan. Bukan, bukan tidak mengerti sepertinya. Tapi memilih untuk tidak mau tahu. Dengan sejuta alasan pembenaran yang sejatinya semuanya akan tersingkirkan ketika melihat ujung akhir dari segala jerih payah ini, Karena memang yag perlu dilakukan hanya usaha. Benar, usaha semampu usaha yang bisa dilakukan. Kalaupun ada yang harus dikorbankan wajar saja. Sesuatu yang luar biasa memang tak pernah terlahir dari hal yang biasa kan? Untuk awalan terkecil dan paling sederhana sekalipun dari suatu keberhasilan tetap butuh perjuangan dalam perjalanan pencapaiannya.

Membicarakan waktu, membawa waktu dalam perencanaan kehidupan, sejatinya juga menyapa kematian. Bukankah ajal memang mengintai dengan setia. Menanti waktu yang ‘tepat’ untuk kemudian menyapa dan mengajak pergi. Disamping hitungan mundur menuju Ramadhan, menuju empat Juni yang sempat menjadi bayang-bayang mimpi buruk ada hitungan lain yang juga berjalan yang tak disadari. Ya, hitungan menuju pertemuan dengan ajal.

Jika dengn ajal yang hitungan mundurnya bahkan tidak diketahui bisa dengan bodohnya bersantai, mengapa perlu segala mual dan ketakutan berlebihan menghadapi sesuatu yang pasti berlalu. Empat Juni 2015 yang tinggal tiga hari lagi. Deadline pengumpulan draft skripsi. Baiklah, tiga hari ini kurasa akan menjadi hari yang berbeda. Karena akan dijalani dengan lebih produktif, semoga. Toh yang perlu kulakukan hanya berusaha kah? Dengan do’a tanpa putus pula tentunya. Penentu hasil akhir tidak mutlak dari hasil jerih payahku. Ada komponen do’a dan bisa jadi faktor ‘X’ yang hanya dapat dilakukan olehNya. Dan kurasa untuk dapat memperoleh semuanya Aku harus lebih memperbaiki diri. MerayuNya dengan segenap persembahan terbaik, do’a dan permohonan ampunan di penghujung hari atas kesalahan yang dengan bodohnya  terulang, lagi dan lagi.

Sampai jumpa pada hari pengumpulan draft, sampai jumpa pada awal Ramadhan, dan sampai jumpa pada hari yang entah kapan. Semoga ketika datang hari itu aku ada pada kondisi terbaik untuk sebuah pertemuan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s