Sebuah Janji

@syarofina hohoho.. sip2.. semangat mbaaak! yang diomongin ke aku juga jangan cuman ngomong doang yaa! :p

Sebaris kalimat yang sebenarnya biasa saja. Tapi itu bermakna dalam buatku. Aku jadi teringat pada hal yang -entah berapa lama- kulupakan. Hal yang pernah -dan masih- menjadi obsesi dan targetku. Dan pagi ini aku diingatkan kembali pada hal itu. Impian indah yang selalu terbayang dan belum juga dapat terealisasikan bahkan jauh dari kata hampir sekalipun. Pun jika proses menuju keberhasilan itu diprosentasekan itu baru mencapai angka 15% dan itu pun sepertinya saat ini angka itu berkurang 😦

Rasanya rindu punya kesempatan untuk mengejar hal itu. Bukan berarti sekarang tidak ada kesempatan. Hanya saja mungkin aku yang tidak meletakkan itu pada prioritas yang pantas didahulukan. Mungkin aku merasa terlalu sayang -atau malas- untuk meluangkan waktu sejenak untuk menekuninya. Dan rasanya sedih ketika sadar kalau hal itu kian jauh dari genggaman ini.

Pagi ini aku diingatkan kembali dan tersadar, itu masih mungkin teercapai. Masih bisa. Sangat bisa. Yang jadi permasalahan MAU atau TIDAK MAU. Mau bersusah payah untuk mencapainya? Mau berjibaku dengan waktu yg sedikit dan meluangkannya? Mau tetep konsisten dan tidak putus semangat di tengah jalan? Mau tetap berjalan selangkah demi selangkah, kata demi kata, baris demi baris, lembar demi lembar sampai semua itu menjadi utuh? Maukah bersusah payah payah untuk melakukan itu semua? Ataukah memilih untuk seperti ini saja. Itu pilihan dengan konsekuensi masing-masing 🙂

Niat harus diperbaharui kembali nih. Semangat yang sempat meredup harus diperbesar dan dijaga nyalanya agar tidak padam di tengah-tengah. Perjalanan masih panjang. Pun ketika itu tercapai bukan berarti selesai tapi justru semakin berat. Karena menjaganya justru lebih berat dari sekedar membaca dan mengumpulkannya dalam memori sebagai sebuah ingatan. Selain itu, pemahaman dan pengamalan juga menjadi tuntutan. tapi itu tidak akan menjadi beban -seharusnya- ketika itu semua adalah rutinitas yang dijalani setiap hari. bukan suatu paksaan yang bahkan dilakukan dengan hati yang menggerutu. Ini akan ringan ketika dilakukan hanya karenaNya. Maka senyumanlah yang akan mengiringi perjalanan perjuangan untuk mencapainya.

Segala puji bagi Alloh yang telah memberikan peringatan untukku lewat jalan yang tidak aku sangka. Dengan cara yang manis tapi itu mengena. Terima kasih untuk anak kedokteran yang sudah menjadi perantara untuk mengingatkanku. Tunggulah aku akan menyusul. Cita-cita itu masih sama dan belum berubah. Dan aku percaya ketika kemauan kuat dibarengi usaha dan do’a yang tidak putus maka Alloh akan memberikannya. 🙂

Dari Abi Umamah ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah olehmu Al Qur’an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya).”” (HR. Muslim)


30 bagian itu telah menunggu terlalu lama untuk ditemui dan disapa kembali. semoga ia selamanya menjadi bagian dari diriku.

#refleksi20 countdown-10 semoga lebih baik 🙂

4 thoughts on “Sebuah Janji

  1. semangat, ya, fina sayang

    bener banget tuh, niat harus senantiasa diperbahrui
    karena seperti yang kita tahu, pilihan yang ada hanya MAU atau TIDA MAU
    tinggal diri kita aja yang menentukan
    :”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s